Lelap dalam Temaram……..

February 10, 2010 | Nukilan

Keterangan Photo: Ratna Parera Bancin

Subulussalam, 02 Februari 2010

Lelap dalam Temaram……..

Sepanjang era sejarah, banyak halte di dunia yang membuka power tendency untuk banyak hal negatif pun tidak kurang buat hal-hal yang posistif. Hampir seluruh elemen telah memberi kesempatan untuk mengecap sebentuk rasa yang tak terkecap, semua penyelenggara perhelatan even penuh intrik bersaing merebut perhatian. Tuntutan dunia mengharuskan, atau dunia telah menyerah………? Mengerjap mata-mata dalam temaram sejak level teratas sampai level yang ada di balik sendal jepit. Mungkin karena pendidikan di sekolah dulu terlampau full kurikulum tersembunyi, sampai semua otak-otak polos pada awal cerita telah menemukan lorong “antik gratis” untuk meretas akses. Luar biasa ” penyakit akut” egoisme dan hedonisme yang merongrong, membuat rebah terkapar, tak berdaya berkilah, rasa meriang tanpa imunitas menggeletarkan ku juga sekali-sekali.

Arus itu, memang tak seharusnya dilawan jua, semua penghargaan atas prestasi murni nilainya ada di bawah nol, namun jika tontonan telah merebut tahta dan tampil sebagai tuntunan nilai terbaik otomatis tersemat. Tak ada kejelasan, seperti Century atau Cecak vs Buaya yang tak kumengerti itu, bukannya tak perduli, tak seharusnya terlalu di besar-besarkan. Jikalau pertanyaan muskil menggerung di alur-alur sepi benakkku, maka blue print yang kupunya adalah yang paling primitif modelnya yaitu : “Bukannya di dunia ini semua punya visi dan misi tersirat yang teramat sangat emergensi dan luar biasa penting secara objektif”. Tak perduli sanggah kilah makhluk Tuhan yang lain. Kenyataan yang terlalu pedas dan penuh merica ini tersodor dalam hidangan yang sangat tak berestetika, konyolnya,…harus di telan tanpa sisa.

Sebelum lelap, bergumul dengan mimpi-mimpi, tergenang kenangan-kenangan jauh yang tak tergapai, kadang ingin kembali ke bangku dimana abjad A, B, C dst diperkenalkan. Mengulang kurikulum dan nilai-nilai yang terlanjur di anut dan di pakukan di dalam otak-otak polos yang kini telah terlalu kelabu untuk di bersihkan dari hasrat-hasrat keliru versi Kris Dayanti itu.

Dengan terus membuka mata dalam terang, banyak tirani yang akan menekan sampai melesak di bawah got, hancur bersama tikus comberan. Sungguh ingin terus mengerjab dengan harap yang bertumpuk-tumpuk, dengan nafsu mendapat posisi bagus atau pose indah di pandang mata yang tersampir dalam album-album sang Tirani, Harus kah ku ikut jua,…..? ah,…ini bukan jamannya mahapatih Gajah Mada lagi (yang ada hanya teori persatuan dan kesatuan). Jangan-jangan, arus itu mulai menyeret sampai sebgian besar kita mulai terlelap dalam ketidak tahuan dan ketidak mauan menyadari ketidak tahuan.Tak pernah tahu di tidak tahu itu sendiri,… Naudzubillah,…

Tags:

Leave a Reply