Almanak
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jun | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | |||
Kata2 singkat
Administrasi
Berita terbaru
- Gema Yasiin Warnai Pengiriman Do’a Untuk Tiro
- Rakyat Aceh Berduka dan Kehilangan Tokoh Besar
- SD Karang Jadi, Sekolahku dan Cik Jon Sahabat Keluarga Kami
- Mau bertarung…Jadilah HIU jangan jadi Relo ( tanggapan Untuk Modernisasi Gayo oleh Sabela Gayo)
- Agama dan Fundamentalisme (Sebuah Tanggapan Untuk Alkaf Muchtar Ali Piyeung)
Nukilan Ratna Parera Bancin
February 10, 2010 | Nukilan
![]() Keterangan Photo: Ratna Parera Bancin
|
¤ Friday, 22 January 2010 Antara memiliki dan menyesali,…..
Ketika pandangan yang tersaji teramat menarik hati, segala yang indah terabai dan tersingkir secara harfiah Tak ada logika yang mampu mematahkan dan menyibakkan sedikit tirai yang melingkupi. Tabah pun memberontak, membeliak tegang dan serak memerintahkan. Hidup mulai mengalihkan pandangan, membentang luas kedepan tak ada simpangan atau pengalihan. Cahaya kuning keemasan sang mentari pagi hari terlihat suram dan tawar terbiaskan. Serasa telah mendaki lereng dan menaklukkan bebukitan yang melonjakkan rasa puas yang di tantang,…rasa ingin memiliki begitu dahsyat membahana bagai air bah yang tertuang dari tangan Tuhan,….Ya Allah,..sungguh sangat luar biasa, menyengat dan tajam mengiris.
Rasa ragu pupus, rasa bimbang terbang, pertimbangan terbuang…hempas, padam di atas bongkah nafsu yang tersudutkan sejak lama. Andai bisa sejenak duduk bersila, diam tafakur menyadari hakikat kehadiran diri di alam ini, hakikat keberadaan dalam ada yang fana dan sementara, hakikat sebuah kedudukan yang di harapkan ketika datang, hakikat sebuah rasa panas membara yang tersemat pada paku-paku kayu sebuah bangku………
Tuhan,…
Maafkan hamba,sungguh tak hendak menghujat siapa-siapa, apa lagi garis taqdir yang tengah meretas jalan-jalan tikus menuju sebuah alternatif yang naif dan tinggal hitungan detik untuk hancur dan lebur bersama angin bukit padas yang sepoi berhembus, diam dan menghanyutkan segala aroma yang berdesakan untuk di hirup dan melenakan sampai liang lahat menganga. setelah di dapat, bertemulah rumus Rasa ingin memiliki dan sesal yang telah menanti… Subulussalam, 22 Januari 2010
¤. Thursday, 21 January 2010 Menatap tubir jurang hati,……
Jika rasa kesal itu datang menghampiri dengan tingkat ekstrimitas yang terlalu tinggi, maka semua yang mutlak berubah nisbi dan semua yang nyata tersaji penuh dengan inspirasi berubah konyol dan sedikit absurd. Hari ini penuh dengan renda-renda yang akan tersibak dengan hembusan sepoi yang bergemuruh. Setidaknya apa yang terpikir bisa menjadi gerbang terlowong bagi langkah-langkah baru menyambut hari ini, dengan kebersihan hati, dengan ke ikhlasan yang tajam dan full analysys, terlalu gelap sebenarnya berpikir terang dalam situasi yang menggugah dan menohok sebelum melangkah. Semoga hari ini, dalam alunan do’a yang berlau tak ada Ipigenia yang di korbankan untuk sebuah ego dan setangkai ambisi yang tersaji di atas vas bunga di depan meja dari sebuah kursi panas yang bergulir,…..
Inspirasi tertuang dengan karya yang nyata dan tak ada yang di hiasi dengan untaian mutiara kepalsuan dalam bingkai platina kebohongan yang begitu manis ketika di cicip dan membakar ketika di cerna.
Ah,…langkah ku tak ingin terhenti dan ter tohok di sni,…jurang itu menganga namun daya pikat dan sugesti yang semalam itu mulai pudar dari sisi jeruji hati ku yang masih kelam dan sarat kekecewaan yang dalam,…. Subulussalam, 21 Januari 2009
¤. Tuesday, 19 January 2010 Berbicara pada pelangi
Kala pelangi itu datang berkunjung di iringi langkah2 awan yang mengulum kelam dalam balutan ke akuan yang begitu besar. pada awal derap itu berderai, sedikit pun rasa tak sudi bergeming, menit berjalan membentuk harmoni dari rangkaian detik2 menjadi hari2 yang berlalu dalam gerakan lamban yang terkadang membuat menyesali kenapa semua yang berarti baru datang saat waktu berjalan sepi dalam kekosongan yang mengundang banyak polemik pada pendudukan atas hati yang terkadang benar2 sulit di mengerti,……..
¤. Subulussalam, 05 Februari 2010.. Mengoyak Tabir Makna
Kemarin, saat melontar perasaan risau ke jurang, kulihat bulan tengah berendam di comberan…..
Tapak-tapak membiru menjejak di teras gundah, membekas dan tak terhapuskan
Ada seikat kembang bangkai merekah di taman istana, sayang tak ada yang merasa tusukan aromanya
mungkin ruangan yang punya tema dan alur cerita telah hangus di bakar api angkara
Saat ku gigit rasa rinduku, terasa kejang ia melewati tenggorokan
Begitu perih ranting-ranting kamboja menyambut lumut kerak yang mekar di balik gugus pikiran
Saat kukunyah kegigihan yang tak lagi tercerna akal, ku temukan dua gugus bintang meredup dalam tempayan,….
Meringis kesabaran ku dibawah intimidasi berlapis tirai baja
Ketika aku mencoba merangkak di bawah seuntai kalimat bersayap, kuretas akses menuju liang-liang hatimu
Sayang,..teramat sayang cuma beberapa warta lusuh yang tengah duduk di situ, di situs hatimu sembari bertengger di pinggir neraka
Semalam, saat ku rekahkan luka ku yang tersembunyi, kulihat Matahari tertunduk lesu
Memaksa ku puasa berkata-kata,..
Maka termangulah aku, terseret oleh angin sepoi yang mengiris-iris sampai halus
Pedihnya jadi manis sekali mencekoki ulu hati
Kemarin, kurasa Matahari tak pernah akan terhimpit dengan ulasan kolumnis, tenrnyata ia tersinggung dan merasa teriris
Hari ini, ternyata bulir-bulir rasionalitas masih tersaji dalam kenyataan yang basi
Lalu ada yang mengusikku, terasa gatal-gatal dijiwaku saat beberapa bintang-bintang hari ini berteduh di bawah sinar bulan yang melompat-lompat kepanasan, melibas masa dan melibatkan beberapa kumparan akal sehat yang tak bersalah ..



