Almanak
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jun | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | |||
Kata2 singkat
Administrasi
Berita terbaru
- Gema Yasiin Warnai Pengiriman Do’a Untuk Tiro
- Rakyat Aceh Berduka dan Kehilangan Tokoh Besar
- SD Karang Jadi, Sekolahku dan Cik Jon Sahabat Keluarga Kami
- Mau bertarung…Jadilah HIU jangan jadi Relo ( tanggapan Untuk Modernisasi Gayo oleh Sabela Gayo)
- Agama dan Fundamentalisme (Sebuah Tanggapan Untuk Alkaf Muchtar Ali Piyeung)
Mau bertarung…Jadilah HIU jangan jadi Relo ( tanggapan Untuk Modernisasi Gayo oleh Sabela Gayo)
March 29, 2010 | Opini

Mau bertarung…Jadilah HIU jangan jadi Relo ( tanggapan Untuk Modernisasi Gayo oleh Sabela Gayo)
Senin 29-03-2010
By Win Wan Nur
Pagi ini saat membuka facebook Yusradi Usman menyapa saya dan meinta saya untuk membaca dan menanggapi sebuah tulisan di I Love Gayo http://www.facebook.com/notes/i-love-gayo/modernisasi-gayo/375916972010 yang ditulis oleh Sabela Gayo yang predikatnya adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pemuda Gayo (PP IPEGA) dan Direktur Eksekutif Biro Bantuan Hukum – Sentral Keadilan (BBH-SK) Banda Aceh.
Sebagaimana biasa, ciri khas yang tidak pernah hilang dalam setiap tulisan Sabela Gayo adalah, banyaknya kutipan dan pengambilan contoh yang tidak relevan dan terkesan tidak dipahami oleh Sabela sendiri. Sehingga argumen yang dia gunakan justru bertolak belakang dengan kesimpulan.
Seperti dalam tulisan ini . Dalam tulisan ini dengan konyolnya Sabela mengatakan mengajak Gayo untuk mau belajar dari ketegaran bangsa Jepang mengutip semangat bangsa Jepang . Tapi oleh dia ketegaran ini diinterprestasikan dengan mengajak orang Gayo kabur dari pintu belakang, untuk menghindari pertarungan.
Apa yang saya katakan di bawah ini adalah kenyataan.
Dimana-mana yang namanya Bangsa Asli itu ya rata-rata memang selalu terpinggirkan. Indian di Amerika utara, tengah dan selatan, Aborigin di Australia, orang Maori di Selandia Baru. Semuanya jadi kaum pinggiran di tanah moyangnya sendiri.
Dalam skala lebih kecil, di Indonesia pun ya sama saja. Di mana-mana yang namanya suku asli itu ya cuma jadi piguran di tanah kelahiran.
Orang melayu tersingkir di Medan, orang betawi jadi olok-olok dan bahan tertawaan di Jakarta, Orang Kubu, Orang Enggano dan Orang Mentawai sama sekali tidak berkutik di Sumatera. Bahkan di Banda Aceh pun suku Aceh yang penduduk asli Banda Aceh banyak yang gelagapan bersaing dengan orang Pidie.
Masalah dengan bangsa asli dimanapun adalah adanya perasaan nyaman dan merasa paling berhak terhadap tanah yang didiami dan ingin selalu dihormati.
Di mana pun letaknya di dunia ini, bangsa asli rata-rata berisi anak-anak manja yang mengidap sindrom PS (pemuda setempat) yang merasa otomatis sudah menjadi hebat tanpa perlu berusaha dan berbuat. Contohnya ya seperti serinen kita Sabela ini. Anak manja yang karena merasa sebagai bangsa asli langsung otomatis merasa lebih hebat dari bangsa yang datang belakangan.
Mentalitas seperti yang ditunjukkan oleh Serinen kita Sabela Gayo inilah yang membuat Bangsa Asli selalu kalah bersaing dengan pendatang.
Orang Gayo tidak berani mimpi menjadi nomer satu sama sekali bukan karena minder sebagai Minoritas, tapi karena MANJA dan tidak memiliki keberanian untuk bertarung.
Soal minoritas-minoritasan, Cina adalah minoritas di negeri ini dan di semua negara yang ada di dunia, kecuali di Hongkong, Singapura, Taiwan, Macao dan Cina sendiri. Tapi di semua negara Cina selalu berjaya.
Contohnya anak sekolahan saja, mulai dari Indonesia yang negara berkembang, Malaysia yang sudah lebih berkembang, sampai ke Perancis dan Amerika yang negara maju, yang namanya anak minoritas Cina itu selalu jadi murid terbaik di kelasnya.
Kenapa bisa begitu…jawabnya cuma satu CINA TIDAK MANJA…Cina berani menderita di awal untuk mendapat kesuksesan di masa depan.
Jepang bisa bangkit dari keterpurukan setelah remuk redam dihajar sekutu karena mereka TIDAK MANJA…Jepang berani menderita di awal untuk mendapat kesuksesan di masa depan.
Lha Gayo, sadar menjadi minoritas dalam segi jumlah di Aceh dan tidak mampu bersaing di tingkat atas, alih-alih menempa diri supaya bisa bertarung secara terbuka, malah mau mencari jalan pintas kabur dari pintu belakang untuk menghindari pertarungan. Supaya bisa bertarung sendiri sesama anak manja…
Eh…Kok sikap khas kaum pecundang begini malah disama-samakan dengan Jepang. Bisa emosi berat ini orang Jepang kalo kebetulan baca tulisan macam ini.
Apa yang ditunjukkan dan dipromosikan oleh serinen kita Sabela dalam tulisannya ini adalah mentalitas khas KATAK DALAM TEMPURUNG, yang hanya bisa membuat kita menjadi bahan tertawaan semua orang.
Tulisan semacam yang dipost oleh serinen kita Sabela ini jelas akan jadi bahan tertawaan dimana-mana karena nyatanya, situasi di dunia luar justru berbalik dengan apa yang Sabela yakini.
Fakta yang ada di dunia nyata adalah ; Orang yang tangguh itu adalah orang yang berani keluar dari kenyamanan. Orang yang berani keluar dari sarang hampir selalu adalah orang-orang terbaik yang keluar dari dalam kerumunan. Mereka biasanya adalah orang-orang yang berani menantang rimba ketidak pastian.
Karena itulah penduduk asli yang bisa membuat terobosan besar di kampung halaman adalah selalu orang-orang setempat yang telah lulus menempa diri di luar. Mau bukti?….Perhatikan saja geliat berbagai kegiatan dan dinamika Gayo yang sedemikian gencar terjadi di Gayo belakangan.
Siapa yang menjadi motor dari segala dinamika itu?…Bukankah mereka itu adalah pemuda-pemuda Gayo yang telah kenyang menempa diri di luar, yang kembali ke kampung halaman dengan berbagai ide segar yang didapat selama menempa diri di perantauan.
Kalau relo yang nggak berani berada jauh-jauh dari begen, mana mungkin punya ide secemerlang itu.
Ibarat ikan, kolam di kampung halaman hanya muat untuk depik, relo, eyas dan paling besar bawal. Kalau ada orang Gayo yang bercita-cita ingin menjadi sebesar HIU apalagi PAUS, ya jelas kolam di kampung halaman tidak akan mampu menampung keinginan ini.
Untuk mencapai cita-cita semacam ini, ya jelas harus pergi ke perairan yang luas, yang penuh resiko dan tantangan.
Sementara yang tinggal (meski tidak semuanya) biasanya ibarat ikan adalah relo-relo yang takut berada jauh-jauh dari begen karena khawatir kehilangan suplai makanan secara reguler dan pasti datang setiap pagi.
Relo-relo yang tidak berani keluar ini biasanya sangat rentan diserang ikan-ikan lain yang datang dari luar. Beberapa relo ada juga yang berani keluar, tapi yang namanya relo keluar pun ya tetap bergerombol, tidak berani sendirian. Nah relo-relo semacam inilah yang selalu berteriak-teriak merasa tidak nyaman dengan gangguan yang datang dari ikan-ikan pendatang, entah itu Mut, Bado atau Jahir.
Lalu relo-relo ini kemudian, berusaha memisahkan diri dengan membuat kolam yang lebih kecil yang khusus ditinggali relo, terpisah dari Mut, Bado dan Jahir.
Sebenarnya, ide cengeng khas mentalitas relo yang tidak berani jauh-jauh dari begen seperti ini ya sah-sah saja untuk dikemukakan, tapi jadi lucu ketika melihat Relo semacam ini ngomong berkoar-koar mengatakan, bahwa seperti inilah cara HIU bertarung!
Wassalam
Win Wan Nur
Orang Gayo yang Tidak Mau Jadi Relo
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com


