Almanak
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jun | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | |||
Kata2 singkat
Administrasi
Berita terbaru
- Gema Yasiin Warnai Pengiriman Do’a Untuk Tiro
- Rakyat Aceh Berduka dan Kehilangan Tokoh Besar
- SD Karang Jadi, Sekolahku dan Cik Jon Sahabat Keluarga Kami
- Mau bertarung…Jadilah HIU jangan jadi Relo ( tanggapan Untuk Modernisasi Gayo oleh Sabela Gayo)
- Agama dan Fundamentalisme (Sebuah Tanggapan Untuk Alkaf Muchtar Ali Piyeung)
Agama dan Fundamentalisme (Sebuah Tanggapan Untuk Alkaf Muchtar Ali Piyeung)
March 29, 2010 | Opini
![]() Keterangan Photo: Win Wan Nur
|
Agama dan Fundamentalisme (Sebuah Tanggapan Untuk Alkaf Muchtar Ali Piyeung)
Senin 29-03-2010
By Win Wan Nur
Beberapa waktu yang lalu seorang intelektual muda Aceh bernama Alkaf Muchtar Ali Piyeung menulis sebuah artikel berjudul AGAMA TANPA WAJAH GARANG http://id.acehinstitute.org/index.php?option=com_content&view=article&id=755:agama-tanpa-wajah-garang&catid=144:kolom-alkaf&Itemid=288 . Dalam tulisannya ini Alkaf mengatakan bahwa dia meyakini benar bahwa setiap agama memiliki gagasan utama yang bersifat perennial, yaitu pesan kemanusiaan.
Dalam tulisan yang sama (sesuai judulnya) Alkaf menganjurkan agar agama menampilkan wajah yang lembut, di sini Alkaf juga membahas soal fundamentalisme dan radikalisme agama yang marak belakangan ini. Maraknya paham ini telah menimbulkan banyak gejolak di antara penganut agama ini sendiri, karena para penganut fundamentalisme dan radikalisme agama itu memang sekumpulan orang yang suka memaksakan kehendak, hanya mau menang sendiri dan menganggap semua pemikiran lain di luar milik mereka adalah SAMPAH.
Untuk mengatasi hal itu Alkaf menganjurkan untu mengajak kelompok penganut aliran garis keras itu untuk dialog dengan suasana kebersamaan dan kebangsaan.
Tulisan Alkaf ini, seperti biasa tentu saja seperti menyuiramkan bensin ke dalam api dan tidak butuh waktu terlalu lama langsung muncul tulisan tandingan berjudul PLURALISME BERWAJAH GARANG (Menanggapi Pemikiran Alkaf Muchtar Ali Piyeung) http://id.acehinstitute.org/index.php?option=com_content&view=article&id=757:pluralisme-berwajah-garang-menanggapi-pemikiran-alkaf-muchtar-ali-piyeung&catid=133:paradigma&Itemid=261. Tulisan ini dibuat oleh orang dari kelompok yang merasa tertohok oleh tulisan ALkaf. Dan penulisnya adalah adik kecil kita Teuku Zulkhairi, yang beberapa waktu lalu begitu gagah perkasa mencari perkara tapi kemudian lari terkaing-kaing, dari konflik yang dia mulai sendiri.
Dan seperti biasa dia tunjukkan dalam tulisan-tulisannya sebelumnya, semua bangun argumen adik kecil kita Teuku Zulkairi dalam tulisan ini pun sama sekali tidak berdasarkan fakta, melainkan hanya dugaan dan fantasinya sendiri terhadap Alkaf dan kemudian dengan modal FANTASINYA itu, dia pun men-CAP Alkaf dengan seenak perutnya sendiri.
Dengan dugaan dan fantasinya itu adik kecil kita Teuku Zulkairi membuat klasifikasi sendiri dan memasukkan Alkaf dalam kelompok yang dia klasifikasikan itu (uniknya, seorang pembaca tulisan itu yang juga sering membaca berbagai notes saya mengatakan, sekarang tulisan adik kecil kita Teuku Zulkairi yang sangat sentimen pada saya ini banyak meniru kata-kata yang saya gunakan misalnya kata ‘bangun argumen’, wah jeli juga mata kawan ini saya pikir, karena saya sendiri tidak pernah menyadari kalau saya ternyata sering menggunakan kata-kata itu).
Karena memang isinya cuma fantasi khas anak kecil yang belum dewasa, saya sama sekali tidak merasa perlu untuk menanggapi tulisan Teuku Zulkhairi ini. Sebab tulisan orang sakit jiwa seperti ini sama sekali tidak ada gunanya untuk ditanggapi, karena kalaupun ditanggapi dengan argumen logis dia tidak mempu mengimbangi, ditanggapi dengan gayanya yang main cap dan memaki-maki dan mengajak konflik terbuka, dia tidak punya nyali.
Sebaliknya dengan tulisan Alkaf, saya justru merasa tulisan ini perlu sekali untuk ditanggapi karena meskipun tulisan ini cukup berbobot, saya melihat dalam tulisan ini Alkaf banyak mengambil kesimpulan yang terburu-buru. Lalu saya pun menulis tanggapan di media yang sama ( http://id.acehinstitute.org/index.php?option=com_content&view=article&id=758:agama-dan-fundamentalisme&catid=133:paradigma&Itemid=261)
ADA beberapa hal yang saya pikir perlu dikritisi dalam tulisan saudara Alkaf Muchtar Ali Piyeung ini. Yang pertama adalah definisi tentang agama. Pertanyaan ini perlu saya ajukan karena apa yang kita sebut sebagai ‘agama’ bisa sangat berbeda pengertiannya antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya. Agama adalah sebuah kata yang arti dan pemahamannya sangat tergantung pada dimana posisi kita berada dan model apa yang kita gunakan untuk memahaminya.
Ada banyak pendekatan yang bisa kita pakai dalam mendefinisikan agama, misalnya secara luas kita bisa memahami agama sebagai sebuah sistem kepercayaan akan adanya realitas lain diluar yang bisa ditangkap oleh panca indera. Dengan mendefinisikan agama melalui cara ini, maka sebuah kepercayaan yang mempercayai realitas lain diluar yang bisa ditangkap oleh Panca indera, itulah disebut agama. Tidak peduli kepercayaan tersebut membawa pesan kemanusiaan atau tidak. Dengan pendekatan seperti ini, model ajaran yang membolehkan pemimpin agamanya menggauli setiap pengikut perempuan, atau kepercayaan orang Indian atau suku primitif yang suka mengorbankan manusia pun akhirnya disebut agama juga.
Agama juga bisa dipahami sebagai satu bagian dari kumpulan kepercayaan terhadap arwah dan dewa-dewa yang kemudian oleh segelintir atau sekelompok orang atau umat lantas diterjemahkan (dipas-pas kan) dengan definisi orang barat. Ada juga yang yang mempercayai suatu kekuatan yang tidak terdefinisikan seperti kepercayaan orang-orang asia timur yang mempercayai ide tentang energi kehidupan (chi) yang menyebar mempengaruhi semua aspek hidup orang asia timur baik secara fisik maupun sosial.
Secara umum di zaman modern ini orang memaknai agama (religion) berdasarkan pada pemahaman orang Eropa tentang agama. Sehingga nama-nama agama yang ada sekarang pun orang banyak mengacu pada pemahaman orang Eropa sendiri. Contohnya istilah Buddhisme atau agama Buddha pertama kali dipakai pada tahun 1801. Istilah Hinduisme alias agama Hindu pertama kali digunakan pada tahun 1929. Para penulis sebelumnya lebih suka menggunakan istilah “kebijaksanaan orang jepang” untuk Buddha atau Ajaran Hindu untuk agama Hindu. (W. C Smith 1978 51-79).
John Bowen, dalam bukunya “religions in practice”, menjelaskan kalau ketika orang Eropa sendiri baru mulai mempelajari agama lain, mereka cenderung menggunakan agama yang familiar dengan mereka (Kristen dan Yahudi) sebagai model umum. Dengan pendekatan seperti ini mereka berasumsi bahwa semua agama harus memiliki tiga unsur utama, yaitu kitab suci, ekskusifitas dan pemisahan.
Pendekatan seperti ini (dengan Islam sebagai model utama) kemudian digunakan oleh pemerintah Indonesia untuk membuat definisi mengenai apa yang disebut agama dan apa yang bukan. Sehingga dari ratusan macam sistem kepercayaan tradisional yang ada di Indonesia, pemerintah Indonesia hanya mengakui 5 agama. Pendekatan seperti ini membuat agama Bali yang dominan dengan unsur animismenya kemudian dikategorikan sebagai Hindu. Agama orang tengger awalnya dikategorikan sebagai Buddha, tapi ketika tahun 1976 tim dari dirjen Hindu-Buddha melakukan penelitian dan ditemukan ada banyak kemiripan antara praktek keagamaan orang Bali, maka sejak saat itupun agama orang tengger dikategorikan sebagai agama Hindu, dan sejak saat itu pula mereka mulai meniru kebiasaan-kebiasaan ritual keagamaan orang Bali.
Karena begitu luasnya definisi Agama, maka agar supaya tidak membingungkan orang yang membaca dan sebelum dia meyakini bahwa setiap agama memiliki gagasan utama yang bersifat perennial, yaitu pesan kemanusiaan, sebenarnya sangatlah perlu Alkaf menjelaskan dengan lebih tegas tentang definisi Agama yang dia maksudkan. Tapi karena disini Alkaf tidak menjelaskan dengan tegas difinisi Agama yang dia maksudkan itu seperti apa, kita pun terpaksa menebak-nebak Agama yang dimaksud oleh Alkaf dalam tulisan ini berdasarkan cara pandang apa.
Dengan mengambil contoh hanya tiga agama saja Yahudi, Kristen dan Islam, sepertinya dalam tulisannya, Alkaf mendefinisikan Agama dengan cara pandang barat. Jadi untuk menanggapi tulisan ini selanjutnya saya pun akan menggunakan pendekatan yang sama (mudah-mudahan kesimpulan saya tidak salah)–sama seperti terburu-burunya Alkaf meyakini karakter suatu agama tanpa menjelaskan rinci bagaimana mengkategorikan sebuah agama.
Ketika Alkaf memahami dan mengkategorikan Agama berdasarkan cara pandang barat ini pun terlihat sekali kalau Alkaf mengambil kesimpulan dari suduh pandang yang sangat terburu-buru. Dalam kerangka argumen dalam tulisannya, ambil contoh misalnya pada kalimat, “Agama yang sejatinya memang untuk kebaikan dan kebahagiaan setiap manusia”, Alkaf menggambarkan seolah-olah Agama itu adalah suatu isme yang berdiri sendiri muncul dengan sendirinya dengan alasan yang dan karakter sebagai ajaran luhur untuk setiap manusia tanpa sama sekali dipengaruhi situasi kekinian yang melatari kelahiran agama tersebut. Padahal kenyataannya tidaklah begitu, karena sebetulnya semua ide agama barat yang kita kenal sekarang awalnya muncul sebagai reaksi terhadap situasi sosial politik aktual saat agama itu lahir, sehingga karakter setiap agama itu pun berbeda-beda. Sebut saja agama Yahudi misalnya, agama ini bukanlah agama yang dimaksudkan untuk menghadirkan kebaikan dan kebahagiaan setiap manusia.
Siapapun yang mengerti teologi Perjanjian Lama pasti menyadari kalau Tauratnya orang Yahudi itu sebetulnya hanya mengikuti perkembangan serta pengalaman bangsa itu sendiri. Dengan mengacu pada Tauratnya orang Yahudi, pada awalnya, Musa muncul sebagai antitesis atas ‘penjajahan dan perbudakan’ di Mesir Kuno terhadap orang Yahudi. Kemudian Musa memperkenalkan Yahweh sebagai ‘Tuhan bangsa Israel’. Yahweh ini kemudian menurunkan ‘hukum’ kepada masyarakat Yahudi di jaman itu. Ketaatan orang Yahudi terhadap hukum itu sendiri dimengerti bukan sebagai kontrak sosial, melainkan kontrak pribadi orang Yahudi (bukan orang dari bangsa atau agama lain) dengan Yahweh sendiri.
Kristen (yang kita kenal hari ini) sendiri sebetulnya lebih ke sintesis daripada antitesis. Kristen itu adalah agama hasil campur-aduk dari berbagai mitologi yang ada di dalam peradaban dominan di masa Paulus hidup.
Misalnya, cerita kelahiran Yesus sendiri mirip dengan cerita tentang kelahiran Mithra, Dewa Matahari yang (Mithra) yang lahir dari dalam batu. Tarsus tempat Paulus lahir dan dibesarkan merupakan pusat kegiatan para penyembah Dewa Mithra sampai dengan masa keruntuhan Kerajaan Romawi. Hari Kelahiran Mithra sendiri dirayakan setiap tanggal 25 Desember, sejalan pergerakan Matahari yang muncul dari garis balik selatan menuju Utara. Dewa Mithra disembah setiap hari Minggu (inilah sebabnya dalam bahasa Inggris Minggu disebut Sunday).
A. N. Wilson dalam bukunya Paul the Mind of the Apostle menjelaskan: Para Ahli Purbakala memperlihatkan bahwa kemungkinan besar laskar Pompey, dalam kegiatan mereka ke Timur, yang pertama memperkenalkan aliran (Penyembah Dewa Mithra) ini ke Masyarakat Romawi. (dikutip dari tulisan Martinus Yosef : Latar Belakang Pemikiran Paulus)
Sementara logos di Injil Yohanes itu sendiri adalah hasil plagiat dari ide Plotinus yang dianggap sebagai pendiri neo-platonisme. Patung Yesus digendong Maria sendiri adalah fotokopi dari patung Isis-Horus. Isi teologi Kristen sendiri yang bersendikan tubuh-jiwa-roh itu nyata-nyata adalah hasil contekan dari filsafat Plato.
(Bagi yang beragama kristen, saya mohon maaf sebesar-besarnya karena saya tahu apa yang saya tulis ini tidak sesuai dengan apa yang anda imani, karena saya memang menulis ini bukan atas dasar Iman, tapi berdasarkan fakta-fakta ilmiah yang saya ketahui)
Maka kalau kita menggunakan cara pandang seperti ini, maka kitapun akan melihat kalau maraknya fundamentalisme dalam Islam belakangan ini pun sebenarnya tidak lain adalah antitesis terhadap keadaan dunia saat ini.
Maraknya fundamentalisme dalam Islam ini tidak bisa dilepaskan dari situasi ketidakberdayaan umat Islam saat ini menghadapi hegemoni barat.
Jadi fundamentalisme Islam sebenarnya juga harus dipahami sebagai antitesis terhadap hegemoni barat yang muncul dari realitas kekalahan Islam dalam segala segi peradaban, dimulai dari ketertinggalan dalam penguasaan IPTEK yang kemudian merembet ke segala segi, membuat umat Islam jadi tertinggal di bidang ekonomi, budaya sampai politik.
Dengan realitas umat Islam yang terpuruk di semua sisi seperti saat ini, fundamentalisme–dalam wujudnya yang paling akut terorisme — jelas adalah satu-satunya bentuk perlawanan yang paling rasional melawan hegemoni barat. Meskipun hal ini juga masih menjadi pedebatan, tapi kenyataannya memang demikian. Dan akibatnya oleh barat yang menguasai media mainstream cap teroris-pun dengan sukses dilekatkan pada ISLAM.
Kita sebagai orang Islam tentu sangat terganggu dengan Cap ini, tapi kalau kita terus bertahan dengan pola pikir seperti sekarang. ya apa boleh buat, cap seperti itu akan selamanya melekat.
Kalau kita orang Islam tidak ingin menggunakan cara seperti ini (fundamentalisme–dalam wujudnya yang paling akut terorisme) untuk melawan hegemoni barat, maka berarti kita harus mengejar segala ketertinggalan yang harus dimulai dari mengejar ketertinggalan dalam bidang IPTEK. Untuk melakukan hal ini, mau tidak mau kita umat Islam harus mengembangkan budaya berpikir ilmiah. Rasionalisme seperti yang dulu pernah digagas oleh aliran Mu’tazillah harus kita tumbuhkan kembali.
Tapi hal ini tentu tidak akan bisa diterima dan pasti akan ditolak mentah-mentah oleh para pengikut Islam fundamentalis yang dalam skala kecil (yang menolak berbagai dalil ilmiah karena dianggap bertentangan dengan al qur’an) sampai besar (fundamentalisme akut) banyak dianut oleh umat Islam saat ini. Sebab kaum fundamentalis adalah kaum yang percaya dan patuh mutlak pada sebuah doktrin atau teks yang ditafsirkan oleh seseorang di dalam kelompok mereka yang dianggap paling mengerti dan paham semua nuzul asbab suatu teks.
Ide rasional seperti ini bisa dipastikan akan ditolak mentah-mentah oleh kaum fundamentalis karena mereka memang jelas-jelas anti-rasional, bagi kaum fundamentalis, yang namanya kebenaran itu bersifat mutlak dan tidak dapat lagi dikompromikan.
Dialog dan diskusi apapun yang melibatkan kaum fundamentalis harus dimulai dari pengakuan bersama bahwa siapapun yang memahami agama dengan cara berbeda dengan mereka tidak lain adalah kaum pengacau keimanan. Jadi, bagaimana caranya mengajak kaum fundamentalis dalam sebuah kebersamaan dan kebangsaan, sebagaimana yang dianjurkan Alkaf?
Jadi, ide Alkaf untuk mengajak kelompok fundamentalis itu berdialog dengan suasana kebersamaan dan kebangsaan bukan hanya tidak tepat, lebih dari itu ini adalah ide yang absurd. Sama konyolnya seperti ide untuk mengawinkan Harimau dengan Kijang.
Wasssalam
Win Wan Nur
Orang Aceh beragama Islam, kini berdomisili di Jakarta.
www.winwannur.blog.com
www.winwannur.blogspot.com



