Tema yang tergilas

February 9, 2010 | Nukilan

Keterangan Photo: Ratna Parera Bancin

Tema yang tergilas

Subulussalam, 10 Februari 2009,

Merubah rotasi yang meliuk di alam akal sehat, memujuk, merayu dan menghentak sampai rasa geregetan tak bertunas itu tumbuh merambat... .
Lahirlah Dusta dengan wajah sumringah yang lengket mengental di kilas senyum.............."

Kian hari, hidup di negeri ini serasa hidup di sebuah peradaban primitif yang ganjil dan penuh monyet-monyet yag asyik nongkrong di tetirah berbintang lima atau minum secangkir kopi di lapak-lapak dengan "life karaoke" .
Perubahan yang di bawa pemimpin yang tengah eksis pun cuma bersifat " Temporary lifestyle" kemudian = terjerembab lagi lalu jatuh terkapar ke alam semula. Bangsa ini mungkin tengah sakit jantung, perlu resusitasi setiap waktu tapi siapa yang peduli, toh, sosok-sosok yang nongkrong di birokrasi negeri ini juga cuma merusak. Regulasi tak kasat mata yang menjanjikan perbaikan mencengangkan, menambah luka memar yang mencederai otak pemimpin negeri ini sembari terus menggelinding ke arah pintu neraka. Kasus-kasus besar yang di botakkan, yang kecil di gembung-gembungkan sehingga semua sentuhan tak punya klasifikasi lagi (Turun kejalan, berkoar sepanjang hari atau aksi anarkhi yang di pertontonkan), sindiran halus maupun kasar hanya bunga-bunga para kolumnis, jurnalis atau koresponden-koresponden berita di harian sore yang cuma terlipat rapi dalam laci. Dari Subulussalam, Kota yang “konon khabarnya” menggeliat-geliat meninggalkan keterpurukan namun tak kunjung bangkit jua, terperangah melirik intrik-intrik yang bermain di puncak langit kekuasaan yang dulu ditaburi janji-janji walaupun semuanya cuma janji yang di “speed dial” ( huwwwwwwwh,…memang bakat hulubalang negeri ini tukang gombal semua, plus orasi-orasi kosong, lalu rakyatnya juga sudah terbiasa di buai janji-janji sampai lena terayun-ayun,..) sepanjang hari tinggal di tekan ulang sampai bosan. Dinegeri indah ini, sedikit sekali emas dan berlian kejujuran yang memiliki arti, terlepas dari agama dan kepercayaan, budaya gotong royong, faham yang di anut dalam konteks mayoritas yang dibanggakan (Memalukan sekali…..).

Dalam kata, semestinya tak salah merendah dan tak perlu pongah, karena dalam aksi dan aplikasi boleh berunjuk diri sekuat tenaga. Sayangnya, di tempat turis manca negara bisa bermanja-manja dengan murah meriah ini tengah demam produksi ” Panitia Khusus” jadi tak sempat belajar dari kegagalan masa lalu yang semestinya jadi guru yang termahal. Sejak beberapa bagian NKRI di cubit oleh negara serumpun sampai lepas sekupang dua kupang, Maka sibuk lah setan inventaris menari-nari dalam daftar rekapitulasi kekayaan negara. Ketika kolam susu yang terus dijarah negara lain potensinya, atau Tongkat kayu yang dulu jadi tanaman di babat ilegal Loging, tak banyak yang mau sedikit perhatian. Bibit-Chandra yang tak kan tumbuh jika di tanam itu jauh lebih menyita perhatian dan menjadi ajang perang politik yang spektakuler, sarat aksi “tim 8″ dan penuh episod “cerita punya cerita” ketimbang situasi negeri ini yang terus terpuruk di setiap incinya. Ketika jerit-jerit pilu manusia miskin di kolong negeri ini berderit-derit mengiris, para pemimpinnnya sibuk mencari tempat aman untuk mengeramkan uang-uang yang akan menetas di kemudian hari ketika jabatan telah ditelanjangi dari tubuhnya.

Indonesia memang surga, di penjara saja ada istana, bayangkan saja sendiri betapa hebatnya. Dalam mengangkat harkat bangsa ini tak cukup cuma kecerdasan, namun upaya keras harus lahir dan di tanamkan didalamnya. Tema cinta dalam sketsa buram negeri ini memang akan menginjak dan menggilas siapapun yang coba perduli atau mengurai kekusutannya, namun gilasan tema cinta itu yang akan memberi makna untuk kehidupan fana yang tak akan pernah abadi. Cinta sesama……semoga!

>bolehlah aku mulai lagi

Tags:

Leave a Reply