<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sinar Atjeh</title>
	<atom:link href="http://www.sinar-atjeh.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.sinar-atjeh.com</link>
	<description>Freedom of Speech</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 Jun 2010 10:35:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Gema Yasiin Warnai Pengiriman Do’a Untuk Tiro</title>
		<link>http://www.sinar-atjeh.com/?p=129</link>
		<comments>http://www.sinar-atjeh.com/?p=129#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 13:31:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Sinar Atjeh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sinar-atjeh.com/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[By Junaidi Beuransah Koresponden &#8220;SA&#8221; dari Vejle Perkumpulan masyarakat Aceh di Denmark mengadakan do’a bersama untuk alm. Tgk. Hasan Muhammad Ditiro yang meninggal dunia hari Kamis,(3/6) di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin(RSUZA) Banda Aceh. Do’a bersama dilaksanakan didua tempat terpisah pada hari yang sama, Sabtu,(5/6) masing-masing di kota Kaast dan Hjørring dalam kawasan Nord-Jylland, Denmark. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-160" title="tiro" src="http://www.sinar-atjeh.com/wp-content/uploads/2010/06/tiro.jpg" alt="tiro" width="340" height="379" /></p>
<p>By Junaidi Beuransah</p>
<p><strong><em>Koresponden &#8220;SA&#8221; dari Vejle</em></strong></p>
<p>Perkumpulan masyarakat Aceh di Denmark mengadakan do’a bersama untuk alm. Tgk. Hasan Muhammad Ditiro yang meninggal dunia hari Kamis,(3/6) di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin(RSUZA) Banda Aceh. Do’a bersama dilaksanakan didua tempat terpisah pada hari yang sama, Sabtu,(5/6) masing-masing di kota Kaast dan Hjørring dalam kawasan Nord-Jylland, Denmark. Namun sehari sebelum itu yakni malamnya, di kota Brost juga diadakan kegiatan serupa dan hanya diikuti beberapa warga saja. Acara ritual di Kota Kaast yang dikoordinir langsung oleh Zulkifli Yahya dan Hasan Basri tersebut berlangsung lancar dan khidmat tanpa kendala yang berarti seperti halnya di Aceh.<span id="more-129"></span></p>
<p>Pantauan sinar-atjeh.com di kota Kaast, rombongan tahlilan dan kenduri bersama itu berjumlah sekitar 70 orang memadati tempat acara, tepatnya dikediaman Maimun Anwar, salah seorang warga Aceh yang pertama kali memiliki rumah sendiri di Denmark. Prosesi kegiatan dimaksud dimulai ba’da shalat zuhur yang diawali shalat ghaib secara berjama’ah dan setelah itu dilanjutkan baca yasiin serta tahlil. Gema baca yasiin yang dilantunkan puluhan masyarakat Aceh itu mewarnai pengiriman do’a untuk almarhum Deklarator Gerakan Aceh Merdeka, Hasan Tiro. Dalam kesempatan itu, Koresponden sinar-atjeh yang menyertai jama’ah takziah tersebut mendapat kehormatan untuk mewakili rombongan menyampaikan nasehat dan nada-ingat seputar almarhum Wali Nanggroe.</p>
<p>Dari kota Hjørring dilaporkan kurang lebih 30-an warga Aceh juga mengadakan acara yang sama. Koordinator do’a bersama di Hjørring, Tgk. H. Amir Ishak yang berhasil dihubungi sinar-atjeh via fastnet menyebutkan, kegiatan ritual itu berlangsung sukses dikediamannya. Menurutnya, do’a yang dipimpin Tgk. Saiful itu terlaksana dengan sempurna. Usai baca do’a mereka mencicipi makanan yang telah dipersiapkan untuk para tamu dan setelah itu mereka kembali kekediamannya masing-masing.</p>
<p>Disela-sela pembicaraan dengan telefon, kepada Sinar-Atjeh Amir Ishak mengatakan bahwa, masyarakat Aceh yang menetap di Canada juga mengadakan hal serupa sekalipun dalam jumlah kecil dan itu berlangsung di Meunasah(surau). Sehari sebelumnya, sebut Amir Ishak, warga Aceh yang tinggal di negeri paman sam, Amerika Serikat-pun turut mengirimkan do’a untuk alm. Wali Nanggroe, sebutan Gerakan Aceh Merdeka.</p>
<p>Pimpinan masyarakat Aceh di Denmark, Makmur Habib Abdulghani, dalam penyampaian singkatnya di kota Kaast, menyerukan agar masyarakat Aceh di Denmark meneruskan ide-ide perjuangan yang ditinggalkan Wali Hasan Tiro dan mengambil hikmah besar dari musibah ini. Nada yang sama juga dilontarkan Nek Hasan(panggilan akrab rekan-rekan untuk Hasan Basri).</p>
<p>Dalam kesempatan tersebut Makmur mengharapkan supaya diadakannya lagi kegiatan serupa minggu depan dalam skala yang lebih besar dan tebuka untuk umum. Menurutnya, do’a bersama nantinya bakal dilangsungkan di gedung yang kapasitas penampungannya lebih luas, ujarnya. (nai)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sinar-atjeh.com/?feed=rss2&amp;p=129</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rakyat Aceh Berduka dan Kehilangan Tokoh Besar</title>
		<link>http://www.sinar-atjeh.com/?p=124</link>
		<comments>http://www.sinar-atjeh.com/?p=124#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 11:45:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Sinar Atjeh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sinar-atjeh.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[By Junaidi Beuransah Innalillaahi Wainnailaihi raaji’uun Denmark-Deklamator Gerakan Aceh Merdeka, DR. Tgk. Hasan Muhammad di Tiro telah berpulang kerahmatullah pada hari ini, Kamis(3/6) sekira pukul 12.00 dini hari . Wali Nanggroe Aceh menghembuskan nafas terakhir di ruang Intensive Coronary Care Unit Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin(ICCU-RSUZA) Banda Aceh. Seluruh masyarakat Aceh berduka cita dengan meninggalnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-medium wp-image-162" title="wali" src="http://www.sinar-atjeh.com/wp-content/uploads/2010/06/wali-296x300.jpg" alt="wali" width="296" height="300" /></p>
<p>By Junaidi Beuransah</p>
<p><strong><em>Innalillaahi Wainnailaihi raaji’uun</em></strong></p>
<p>Denmark-Deklamator Gerakan Aceh Merdeka, DR. Tgk. Hasan Muhammad di Tiro telah berpulang kerahmatullah pada hari ini, Kamis(3/6) sekira pukul 12.00 dini hari . Wali Nanggroe Aceh menghembuskan nafas terakhir di ruang Intensive Coronary Care Unit Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin(ICCU-RSUZA) Banda Aceh. Seluruh masyarakat Aceh berduka cita dengan meninggalnya seorang tokoh pahlawan yang paling berjasa terhadap kemajuan perjuangan Aceh. <span id="more-124"></span>Tak terkecuali, masyarakat Aceh dipengasingan pun merasakan kesedihan mendalam karena kehilangan tokoh penting yang selama ini menjadi kunci suksesnya transformasi Aceh pasca damai Aceh dengan RI di Helsinki pada Agustus 2005 silam.</p>
<p>Warga Aceh di Denmark sedih mendengar berita Wali Nanggroe sudah meninggal. Khabar duka itu begitu cepat tersebar dikalangan masyarakat Aceh yang bermukim di Denmark. Spontan raut wajah para penerima suaka politik asal Aceh yang kini menjadi penduduk negeri Skandinavia ini terlihat jelas dari hari-hari sebelumnya. Kepergian tokoh intelektual dan ahli politik ini menyiratkan banyak makna dimata masyarakat Aceh.</p>
<p>Denmark termasuk negara yang pernah dikunjungi oleh almarhum pendiri Gerakan Aceh Merdeka ini, DR. Hasan Muhammad di Tiro dalam lawatan silaturrahmi dengan masyarakat Aceh pada akhir Desember 2004. Kenang-kenangan bertemu dan berjabat tangan dengan orang yang paling dicari-cari oleh Pemerintah Indonesia masa Orde Baru dan era Pemerintahan Megawati ini masih sangat membekas diingatan. Sekarang pucuk pimpinan Gerakan Aceh Merdeka(GAM) telah tiada untuk pergi selama-lamanya. Kita,(masyarakat) hanya mampu mengirim do’a, mengenang jasa-jasanya begitu juga ilmu yang pernah diajarinya kepada siapapun bangsa Aceh sehingga terbuka pikiran dan wawasan perjuangan Aceh ”hatta” Aceh sekarang.</p>
<p>Sebagaimana diketahui, orang nomor satu dijajaran GAM ini sudah tiga kali mendapat perawatan secara intensiv di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin, Banda Aceh sejak Desember 2009, April dan terakhir Mai 2010. Pria senior bidang ilmu hukum ketatanegaraan dan hukum internasional itu menderita infeksi paru-paru dan selama sepekan terakhir kondisi kesehatannya menurun drastis. Meskipun usaha pertolongan medis telah dilakukan, namun Allah berkehendak lain. Faktor usianya yang lanjut juga mempengaruhi penyakit tersebut yang tergolong kronis.</p>
<p>Lelaki kelahiran Pidie pada 25 September 1925 ini sebelumnya pernah tiga kali dikhabarkan meninggal oleh Penguasa masa Orde Baru dulu. Berita tersebut telah pernah disiarkan dimedia/surat kabar di Indonesia. Namun semua itu tidak terjadi dan hanya bentuk propaganda Pemerintah Indonesia dan militernya untuk mematahkan semangat perlawanan rakyat Aceh dari mendukung perjuangan pimpinan Hasan Muhammad di Tiro waktu itu.(nai)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sinar-atjeh.com/?feed=rss2&amp;p=124</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SD Karang Jadi, Sekolahku dan Cik Jon Sahabat Keluarga Kami</title>
		<link>http://www.sinar-atjeh.com/?p=121</link>
		<comments>http://www.sinar-atjeh.com/?p=121#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 07:58:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sinar-atjeh.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[SD Karang Jadi, Sekolahku dan Cik Jon Sahabat Keluarga Kami Senin 16-04-2010 By Win Wan Nur Pada awal dekade 80-an, aku tinggal di desa Fajar Harapan, sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung Bur Ni Telong yang saat itu berada dalam Kecamatan Timang Gajah, kabupaten Aceh Tengah. Tapi sekarang desa ini masuk ke dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-164" title="win w nur" src="http://www.sinar-atjeh.com/wp-content/uploads/2010/04/win-w-nur.jpg" alt="win w nur" width="290" height="355" /></p>
<p><strong>SD Karang Jadi, Sekolahku dan Cik Jon Sahabat Keluarga Kami</strong></p>
<p>Senin 16-04-2010</p>
<p>By Win Wan Nur<br />
Pada awal dekade 80-an, aku tinggal di desa Fajar Harapan, sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung Bur Ni Telong yang saat itu berada dalam Kecamatan Timang Gajah, kabupaten Aceh Tengah. Tapi sekarang desa ini masuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Bener Meriah.</p>
<p>Aku bersekolah di SD Negeri Karang Jadi, sebuah SD Inpres yang saat itu merupakan satu-satunya sekolah Dasar dalam radius 10 kilometer (antara Lampahan dan Simpang Balik). Saat aku masuk di kelas I, kelas tertinggi di sekolah ini baru sampai kelas IV, kelas V dan kelas VI masih kosong.<br />
<span id="more-121"></span><br />
Rumahku cuma terpisah jarak 200 meter dari sekolahku ini, jadi aku tidak poernah terlambat masuk sekolah, dan oleh guruku aku sering dititipi kunci ruangan kelas dan membuka ruangan itu setiap pagi. Sementara banyak teman-teman sekelasku tidak seberuntung aku, beberapa dari mereka tinggal di kebun-kebun kopi di daerah Bur Lah yang jaraknya sekitar 6 atau 7 kilometer dari sekolah kami. Jadi teman-temanku itu, agar tidak terlambat harus bangun lebih pagi dan berjalan kaki ke sekolah kami. Seringkali mereka terpaksa menenteng sepatu yang dikenakan, karena jalan setapak yang mereka lalui becek diguyur hujan.</p>
<p>Secara etnisitas, teman-teman sekelasku cuma terdiri dari dua suku, yaitu suku Gayo dan suku Jawa yang semuanya memiliki orang tua yang berprofesi sebagai petani.</p>
<p>Pada waktu itu, profesi petani bukanlah sebuah profesi yang menghasilkan banyak uang meskipun tidak sampai membuat orang kelaparan. Meskipun tidak kekurangan makan, tapi rata-rata teman sekalasku bahkan tidak memiliki cukup uang untuk sekedar membeli sabun mandi, aku tahu itu karena tidak satupun rumah di desa tempatku tinggal itu yang memiliki kamar mandi. Kami semua mandi di tempat pemandian umum, dan setiap kali mandi kulihat, cuma aku satu-satunya yang memiliki sabun mandi (merk Camay) dan shampo bubuk (merk Tancho) dalam kotak perlengkapan mandi. Teman-temanku yang lain semuanya menggunakan sabun cuci Cap Sampan untuk mandi dan air perasan jeruk yang biasa digunakan untuk bumbu sayuran sebagai pengganti Shampo untuk membersihkan kulit kepala.</p>
<p>Karena situasinya seperti ini, saat guru kami mengajarkan cara menjaga kesehatan mulut, kami tidak diajari untuk menggunakan sikat gigi yang benar dengan pasta gigi berfluoride. Dalam ruangan kelas, guru kami mengajari kami untuk menjaga kebersihan mulut dengan cara menggosok gigi menggunakan sejenis rumput yang dalam bahasa Gayo disebut &#8216;tetusuk&#8217;atau yang agak lebih elit menggunakan arang.</p>
<p>Teman-teman sekelasku jarang sekali yang memiliki uang jajan. Saat itu teman-teman saya termasuk saya sendiri hanya diberikan uang oleh orang tua sebatas untuk keperluan sekolah saja, seperti untuk membeli buku dan alat tulis. Bagi kami bahkan memiliki banyak buku tulis pun sudah terhitung sebuah kemewahan, tidak sedikit teman sekelasku yang hanya memiliki satu buah buku tulis yang digunakan untuk mencatat semua pelajaran.</p>
<p>Mainan juga demikian, kami sama sekali tidak memiliki mainan plastik apalagi mainan elektronik. Satu-satunya anak yang memiliki mainan elektronik di kampung kami ini cuma aku sendiri. Waktu itu aku punya mainan semacam video tanpa suara yang dijalankan dengan tenaga baterai dan ditonton dengan cara diintip. Aku punya tiga buah kaset untuk alat ini, yang satu ceritanya tikus dan kucing yang kejar-kejaran, satu lagi orang berkostum aneh yang berloncat-loncatan di gedung-gedung, kata ayahku namanya Spiderman, satu lagi aku lupa.</p>
<p>Teman-temanku selalu berebutan untuk melihat mainanku ini, tapi ayahku bilang satu hari mainanku ini cuma bisa dipakai sekali. Karena mainan ini harus dijalankan dengan menggunakan baterai yang harganya mahal. Karena itulah aku membuat giliran untuk teman-temankku yang ingin melihat film dalam mainanku ini, yang sudah pernah menonton tidak boleh menonton lagi sampai gilirannya datang lagi.</p>
<p>Aku mendapat mainan ini dari seorang teman keluargaku yang biasa kupanggil Cik Jon, yang kukenal pada tahun 1979, saat aku masih tinggal bersama dengan kakekku di Isaq.</p>
<p>Cik Jon, sahabat keluarga kami ini memiliki ciri fisik yang sangat berbeda dengan semua orang yang pernah kukenal. Misalnya, secara ukuran tubuh saja Cik Jon benar-benar berbeda dengan orang yang pernah kulihat. Cik Jon bahkan lebih tinggi dari ayahku, padahal sebelum bertemu Cik Jon, aku belum pernah melihat ada satu orangpun yang lebih tinggi dari ayahku. Ciri fisik lain yang sangat berbeda dari Cik Jon adalah hidungnya yang sangat mancung, jauh lebih mancung dibanding hidung semua orang yang pernah kukenal.</p>
<p>Hal aneh lain yang kulihat dari fisik Cik Jon adalah kulitnya yang berwarna merah jambu, padahal selama ini kebanyakan orang yang kulihat memiliki kulit berwarna hitam seperti kulit ayahku, coklat seperti kulitku atau putih seperti kulit ibuku. Rambut dan semua bulu di tangan dan kaki Cik Jon berwarna kuning, tidak hitam seperti milikku dan hampir semua orang yang kukenal.</p>
<p>Warna kulit dan warna rambut Cik Jon ini mirip seperti warna kulit dan warna rambut Cina bisu yang bekerja sebagai pengayuh becak barang yang selalu lewat di depan rumah bibiku di Jalan Mersa Takengen. Yang selalu kuingat dari Cina bisu ini adalah dia selalu memicingkan mata setiap kali matahari bersinar terik.</p>
<p>Dulu waktu pertama kali melihat cina bisu pengayuh becak itu, aku pernah menunjukkan keherananku. Oleh bibiku yang bekerja sebagai perawat, aku dijelaskan kalau si Cina bisu itu kulitnya seperti itu karena satu kelainan (waktu menjelaskan padaku bibiku mengatakan kelainan itu sebagai &#8220;penyakit&#8221; )yang dia dapat sejak lahir, bukan cuma kulitnya, tapi matanya juga tidak tahan kena matahari langsung, karena itulah dia selalu memicingkan mata, kata bibiku itu.</p>
<p>Aku tidak begitu mengerti penjelasan bibiku ini, tapi aku tahu cina bisu terlihat berbeda dengan kami karena dia sakit, dia yang tidak bisa berbicara juga kupikir pasti karena sakitnya ini.</p>
<p>Karena itulah dulu waktu pertama bertemu Cik Jon aku menyimpulkan kalau Cik Jon juga sakit seperti Cina Bisu yang biasa kulihat lewat mengayuh becaknya di depan rumah bibiku. Tapi aku benar-benar kaget ketika mengetahui Cik Jon ternyata bisa bicara, lalu setelah kuperhatikan lagi Cik Jon tidak pernah memicingkan mata di bawah matahari yang bersinar terik.</p>
<p>Aku sempat merasa bingung dan penasaran melihat keanehan Cik Jon ini. Tapi karena kulihat Cik Jon sangat dihargai oleh orang-orang dewasa di keluargaku, aku takut untuk menanyakan kepada mereka kenapa Cik Jon bisa seperti itu. Belakangan ketika sudah ada televisi dan di televisi sering diputar film-film Amerika, baru aku tahu kalau di dunia ini ada banyak orang seperti Cik Jon di negara yang namanya Amerika itu, negara tempat Cik Jon berasal yang kutahu sangat jauh letaknya tapi tidak aku tahu persis dimana.</p>
<p>Waktu aku tinggal di Isaq itu, setiap malam sehabis shalat Isya, Cik Jon yang pulang shalat dari mesjid bersama kakekku, yang juga seperti kakekku masih mengenakan kain sarung selalu berbincang-bincang dengan kakekku di bale-bale dapur kami. Saat mereka berbincang-bincang, biasanya aku selalu berada di sana untuk mendengarkan, tapi meskipun Cik Jon dan Kakekku berbincang dalam bahasa Gayo, tidak satupun kalimat yang mereka bicarakan yang aku mengerti. Aku sendiri cukup akrab dengan Cik Jon, dia sering menggendongku dan pernah sekali memberiku uang jajan tapi dilarang oleh kakekku dan sejak itu dia tidak pernah lagi memberiku uang jajan.</p>
<p>Satu hari tiba-tiba Cik Jon menghilang dari kampung kami, aku tidak tahu dia kemana dan aku juga tidak pernah menanyakannya kepada kakekku. Hampir bersamaan dengan menghilangnya Cik Jon, aku juga kembali tinggal dengan orang tuaku untuk bersekolah. Aku bertemu kembali dengan Cik Jon di Medan, pada sekitar tahun 1981 ketika aku mengantarkan kakekku naik haji. Ketika itulah dia memberikan mainan kebanggaanku itu yang katanya dia beli di Hongkong yang tidak kutahu di mana letaknya itu.</p>
<p>Belakangan ketika aku dewasa aku tahu kalau Cik Jon ini memiliki nama lengkap John Richard Bowen, seorang profesor Antropologi yang banyak menulis karya antropologi tentang Gayo, diantaranya Sumateran Politics and Poetics, Muslim Through Discourse, Islam and The Equality in Indonesia dan lain-lain, beliau sekarang mengajar di University Of Washington di St. Louis, Missouri di Amerika sana. Belakangan pula aku ketahui kalau perbincangannya dengan kakekku yang dulu tidak kumengerti itu adalah wawancara yang Cik Jon lakukan sebagai bahan untuk menyelesaikan disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor.</p>
<p>Perbincangan antara Cik Jon dan kakekku di bale-bale dapur rumah kami itu, yang dulu sama tidak kumengerti itu sekarang tercatat di dalam dua buku karya Cik Jon yang dia beri judul, Sumateran Politics and Poetics Gayo History 1900-1989 yang diterbitkan oleh Yale University Press pada tahun 1991 dan Muslim Through Discourse.</p>
<p>Sekarang aku masih sering berhubungan dengan Cik Jon via E-mail, dari cerita-cerita di E-Mail aku meminta Cik Jon mengirimiku buku-bukunya dan dalam buku itu aku membaca kembali dialog Cik Jon dengan Kakekku yang sekarang sudah almarhum setiap malam sehabis shalat Isya pada tahun 1979 lalu.</p>
<p>Seperti dulu aku yang selalu mendengarkan dialog Cik Jon dengan almarhum kakekku dengan khusuk, sekarang pun aku menyimak dialog itu dengan penuh rasa ingin tahu, tapi bedanya dengan tahun 1979 lalu, sekarang aku sudah sangat paham apa yang mereka perbincangkan. Meskipun perbincangan yang mereka lakukan dalam bahasa Gayo itu, dalam buku ini sudah diterjemahkan oleh Cik Jon ke dalam bahasa Inggris.</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Win Wan Nur</p>
<p>www.winwannur.blog.com<br />
www.winwannur.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sinar-atjeh.com/?feed=rss2&amp;p=121</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mau bertarung&#8230;Jadilah HIU jangan jadi Relo ( tanggapan Untuk Modernisasi Gayo oleh Sabela Gayo)</title>
		<link>http://www.sinar-atjeh.com/?p=116</link>
		<comments>http://www.sinar-atjeh.com/?p=116#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 15:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sinar-atjeh.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Mau bertarung&#8230;Jadilah HIU jangan jadi Relo ( tanggapan Untuk Modernisasi Gayo oleh Sabela Gayo) Senin 29-03-2010 By Win Wan Nur Pagi ini saat membuka facebook Yusradi Usman menyapa saya dan meinta saya untuk membaca dan menanggapi sebuah tulisan di I Love Gayo http://www.facebook.com/notes/i-love-gayo/modernisasi-gayo/375916972010 yang ditulis oleh Sabela Gayo yang predikatnya adalah Ketua Umum Pengurus Pusat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.sinar-atjeh.com/wp-content/uploads/2010/03/wwn.jpg" alt="wwn" title="wwn" width="300" height="207" class="alignnone size-full wp-image-166" /></p>
<p><strong>Mau bertarung&#8230;Jadilah HIU jangan jadi Relo ( tanggapan Untuk Modernisasi Gayo oleh Sabela Gayo)</strong></p>
<p>Senin 29-03-2010</p>
<p>By Win Wan Nur</p>
<p>Pagi ini saat membuka facebook Yusradi Usman menyapa saya dan meinta saya untuk membaca dan menanggapi sebuah tulisan di I Love Gayo http://www.facebook.com/notes/i-love-gayo/modernisasi-gayo/375916972010 yang ditulis oleh Sabela Gayo yang predikatnya adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pemuda Gayo (PP IPEGA) dan Direktur Eksekutif Biro Bantuan Hukum &#8211; Sentral Keadilan (BBH-SK) Banda Aceh.<span id="more-116"></span></p>
<p>Sebagaimana biasa, ciri khas yang tidak pernah hilang dalam setiap tulisan Sabela Gayo adalah, banyaknya kutipan dan pengambilan contoh yang tidak relevan dan terkesan tidak dipahami oleh Sabela sendiri. Sehingga argumen yang dia gunakan justru bertolak belakang dengan kesimpulan.</p>
<p>Seperti dalam tulisan ini . Dalam tulisan ini dengan konyolnya Sabela mengatakan mengajak Gayo untuk mau belajar dari ketegaran bangsa Jepang mengutip semangat bangsa Jepang . Tapi oleh dia ketegaran ini diinterprestasikan dengan mengajak orang Gayo kabur dari pintu belakang, untuk menghindari pertarungan.</p>
<p>Apa yang saya katakan di bawah ini adalah kenyataan.</p>
<p>Dimana-mana yang namanya Bangsa Asli itu ya rata-rata memang selalu terpinggirkan. Indian di Amerika utara, tengah dan selatan, Aborigin di Australia, orang Maori di Selandia Baru. Semuanya jadi kaum pinggiran di tanah moyangnya sendiri.</p>
<p>Dalam skala lebih kecil, di Indonesia pun ya sama saja. Di mana-mana yang namanya suku asli itu ya cuma jadi piguran di tanah kelahiran.</p>
<p>Orang melayu tersingkir di Medan, orang betawi jadi olok-olok dan bahan tertawaan di Jakarta, Orang Kubu, Orang Enggano dan Orang Mentawai sama sekali tidak berkutik di Sumatera. Bahkan di Banda Aceh pun suku Aceh yang penduduk asli Banda Aceh banyak yang gelagapan bersaing dengan orang Pidie.</p>
<p>Masalah dengan bangsa asli dimanapun adalah adanya perasaan nyaman dan merasa paling berhak terhadap tanah yang didiami dan ingin selalu dihormati.</p>
<p>Di mana pun letaknya di dunia ini, bangsa asli rata-rata berisi anak-anak manja yang mengidap sindrom PS (pemuda setempat) yang merasa otomatis sudah menjadi hebat tanpa perlu berusaha dan berbuat. Contohnya ya seperti serinen kita Sabela ini. Anak manja yang karena merasa sebagai bangsa asli langsung otomatis merasa lebih hebat dari bangsa yang datang belakangan.</p>
<p>Mentalitas seperti yang ditunjukkan oleh Serinen kita Sabela Gayo inilah yang membuat Bangsa Asli selalu kalah bersaing dengan pendatang.</p>
<p>Orang Gayo tidak berani mimpi menjadi nomer satu sama sekali bukan karena minder sebagai Minoritas, tapi karena MANJA dan tidak memiliki keberanian untuk bertarung.</p>
<p>Soal minoritas-minoritasan, Cina adalah minoritas di negeri ini dan di semua negara yang ada di dunia, kecuali di Hongkong, Singapura, Taiwan, Macao dan Cina sendiri. Tapi di semua negara Cina selalu berjaya.</p>
<p>Contohnya anak sekolahan saja, mulai dari Indonesia yang negara berkembang, Malaysia yang sudah lebih berkembang, sampai ke Perancis dan Amerika yang negara maju, yang namanya anak minoritas Cina itu selalu jadi murid terbaik di kelasnya.</p>
<p>Kenapa bisa begitu&#8230;jawabnya cuma satu CINA TIDAK MANJA&#8230;Cina berani menderita di awal untuk mendapat kesuksesan di masa depan.</p>
<p>Jepang bisa bangkit dari keterpurukan setelah remuk redam dihajar sekutu karena mereka TIDAK MANJA&#8230;Jepang berani menderita di awal untuk mendapat kesuksesan di masa depan.</p>
<p>Lha Gayo, sadar menjadi minoritas dalam segi jumlah di Aceh dan tidak mampu bersaing di tingkat atas, alih-alih menempa diri supaya bisa bertarung secara terbuka, malah mau mencari jalan pintas kabur dari pintu belakang untuk menghindari pertarungan. Supaya bisa bertarung sendiri sesama anak manja&#8230;</p>
<p>Eh&#8230;Kok sikap khas kaum pecundang begini malah disama-samakan dengan Jepang. Bisa emosi berat ini orang Jepang kalo kebetulan baca tulisan macam ini.</p>
<p>Apa yang ditunjukkan dan dipromosikan oleh serinen kita Sabela dalam tulisannya ini adalah mentalitas khas KATAK DALAM TEMPURUNG, yang hanya bisa membuat kita menjadi bahan tertawaan semua orang.</p>
<p>Tulisan semacam yang dipost oleh serinen kita Sabela ini jelas akan jadi bahan tertawaan dimana-mana karena nyatanya, situasi di dunia luar justru berbalik dengan apa yang Sabela yakini.</p>
<p>Fakta yang ada di dunia nyata adalah ; Orang yang tangguh itu adalah orang yang berani keluar dari kenyamanan. Orang yang berani keluar dari sarang hampir selalu adalah orang-orang terbaik yang keluar dari dalam kerumunan. Mereka biasanya adalah orang-orang yang berani menantang rimba ketidak pastian.</p>
<p>Karena itulah penduduk asli yang bisa membuat terobosan besar di kampung halaman adalah selalu orang-orang setempat yang telah lulus menempa diri di luar. Mau bukti?&#8230;.Perhatikan saja geliat berbagai kegiatan dan dinamika Gayo yang sedemikian gencar terjadi di Gayo belakangan.</p>
<p>Siapa yang menjadi motor dari segala dinamika itu?&#8230;Bukankah mereka itu adalah pemuda-pemuda Gayo yang telah kenyang menempa diri di luar, yang kembali ke kampung halaman dengan berbagai ide segar yang didapat selama menempa diri di perantauan.</p>
<p>Kalau relo yang nggak berani berada jauh-jauh dari begen, mana mungkin punya ide secemerlang itu.</p>
<p>Ibarat ikan, kolam di kampung halaman hanya muat untuk depik, relo, eyas dan paling besar bawal. Kalau ada orang Gayo yang bercita-cita ingin menjadi sebesar HIU apalagi PAUS, ya jelas kolam di kampung halaman tidak akan mampu menampung keinginan ini.</p>
<p>Untuk mencapai cita-cita semacam ini, ya jelas harus pergi ke perairan yang luas, yang penuh resiko dan tantangan.</p>
<p>Sementara yang tinggal (meski tidak semuanya) biasanya ibarat ikan adalah relo-relo yang takut berada jauh-jauh dari begen karena khawatir kehilangan suplai makanan secara reguler dan pasti datang setiap pagi.</p>
<p>Relo-relo yang tidak berani keluar ini biasanya sangat rentan diserang ikan-ikan lain yang datang dari luar. Beberapa relo ada juga yang berani keluar, tapi yang namanya relo keluar pun ya tetap bergerombol, tidak berani sendirian. Nah relo-relo semacam inilah yang selalu berteriak-teriak merasa tidak nyaman dengan gangguan yang datang dari ikan-ikan pendatang, entah itu Mut, Bado atau Jahir.</p>
<p>Lalu relo-relo ini kemudian, berusaha memisahkan diri dengan membuat kolam yang lebih kecil yang khusus ditinggali relo, terpisah dari Mut, Bado dan Jahir.</p>
<p>Sebenarnya, ide cengeng khas mentalitas relo yang tidak berani jauh-jauh dari begen seperti ini ya sah-sah saja untuk dikemukakan, tapi jadi lucu ketika melihat Relo semacam ini ngomong berkoar-koar mengatakan, bahwa seperti inilah cara HIU bertarung!</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Win Wan Nur<br />
Orang Gayo yang Tidak Mau Jadi Relo</p>
<p>www.winwannur.blog.com<br />
www.winwannur.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sinar-atjeh.com/?feed=rss2&amp;p=116</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agama dan Fundamentalisme (Sebuah Tanggapan Untuk Alkaf Muchtar Ali Piyeung)</title>
		<link>http://www.sinar-atjeh.com/?p=114</link>
		<comments>http://www.sinar-atjeh.com/?p=114#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Mar 2010 15:16:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sinar-atjeh.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Keterangan Photo: Win Wan Nur Agama dan Fundamentalisme (Sebuah Tanggapan Untuk Alkaf Muchtar Ali Piyeung) Senin 29-03-2010 By Win Wan Nur Beberapa waktu yang lalu seorang intelektual muda Aceh bernama Alkaf Muchtar Ali Piyeung menulis sebuah artikel berjudul AGAMA TANPA WAJAH GARANG http://id.acehinstitute.org/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=755:agama-tanpa-wajah-garang&#038;catid=144:kolom-alkaf&#038;Itemid=288 . Dalam tulisannya ini Alkaf mengatakan bahwa dia meyakini benar bahwa setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="width: 300px; height: 207px;" border="0" width="300" align="left">
<tbody>
<tr>
<td scope="row">
<div><img src="http://sinar-atjeh.com/images/wwn.jpg" alt="" width="300" height="207" /></div>
<div><span class="style26"><span style="color: #0000FF;">Keterangan Photo: Win Wan Nur</span></span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Agama dan Fundamentalisme (Sebuah Tanggapan Untuk Alkaf Muchtar Ali Piyeung)</strong></p>
<p>Senin 29-03-2010</p>
<p>By Win Wan Nur</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu seorang intelektual muda Aceh bernama Alkaf Muchtar Ali Piyeung menulis sebuah artikel berjudul AGAMA TANPA WAJAH GARANG http://id.acehinstitute.org/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=755:agama-tanpa-wajah-garang&#038;catid=144:kolom-alkaf&#038;Itemid=288 . Dalam tulisannya ini Alkaf mengatakan bahwa dia meyakini benar bahwa setiap agama memiliki gagasan utama yang bersifat perennial, yaitu pesan kemanusiaan.<span id="more-114"></span></p>
<p>Dalam tulisan yang sama (sesuai judulnya) Alkaf menganjurkan agar agama menampilkan wajah yang lembut, di sini Alkaf juga membahas soal fundamentalisme dan radikalisme agama yang marak belakangan ini. Maraknya paham ini telah menimbulkan banyak gejolak di antara penganut agama ini sendiri, karena para penganut fundamentalisme dan radikalisme agama itu memang sekumpulan orang yang suka memaksakan kehendak, hanya mau menang sendiri dan menganggap semua pemikiran lain di luar milik mereka adalah SAMPAH. </p>
<p>Untuk mengatasi hal itu Alkaf menganjurkan untu mengajak kelompok penganut aliran garis keras itu untuk dialog dengan suasana kebersamaan dan kebangsaan.</p>
<p>Tulisan Alkaf ini, seperti biasa tentu saja seperti menyuiramkan bensin ke dalam api dan tidak butuh waktu terlalu lama langsung muncul tulisan tandingan berjudul PLURALISME BERWAJAH GARANG (Menanggapi Pemikiran Alkaf Muchtar Ali Piyeung) http://id.acehinstitute.org/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=757:pluralisme-berwajah-garang-menanggapi-pemikiran-alkaf-muchtar-ali-piyeung&#038;catid=133:paradigma&#038;Itemid=261. Tulisan ini dibuat oleh orang dari kelompok yang merasa tertohok oleh tulisan ALkaf. Dan penulisnya adalah adik kecil kita Teuku Zulkhairi, yang beberapa waktu lalu begitu gagah perkasa mencari perkara tapi kemudian lari terkaing-kaing, dari konflik yang dia mulai sendiri.</p>
<p>Dan seperti biasa dia tunjukkan dalam tulisan-tulisannya sebelumnya, semua bangun argumen adik kecil kita Teuku Zulkairi dalam tulisan ini pun sama sekali tidak berdasarkan fakta, melainkan hanya dugaan dan fantasinya sendiri terhadap Alkaf dan kemudian dengan modal FANTASINYA itu, dia pun men-CAP Alkaf dengan seenak perutnya sendiri.<br />
Dengan dugaan dan fantasinya itu adik kecil kita Teuku Zulkairi membuat klasifikasi sendiri dan memasukkan Alkaf dalam kelompok yang dia klasifikasikan itu (uniknya, seorang pembaca tulisan itu yang juga sering membaca berbagai notes saya mengatakan, sekarang tulisan adik kecil kita Teuku Zulkairi yang sangat sentimen pada saya ini banyak meniru kata-kata yang saya gunakan misalnya kata &#8216;bangun argumen&#8217;, wah jeli juga mata kawan ini saya pikir, karena saya sendiri tidak pernah menyadari kalau saya ternyata sering menggunakan kata-kata itu).</p>
<p>Karena memang isinya cuma fantasi khas anak kecil yang belum dewasa, saya sama sekali tidak merasa perlu untuk menanggapi tulisan Teuku Zulkhairi ini. Sebab tulisan orang sakit jiwa seperti ini sama sekali tidak ada gunanya untuk ditanggapi, karena kalaupun ditanggapi dengan argumen logis dia tidak mempu mengimbangi, ditanggapi dengan gayanya yang main cap dan memaki-maki dan mengajak konflik terbuka, dia tidak punya nyali.</p>
<p>Sebaliknya dengan tulisan Alkaf, saya justru merasa tulisan ini perlu sekali untuk ditanggapi karena meskipun tulisan ini cukup berbobot, saya melihat dalam tulisan ini Alkaf banyak mengambil kesimpulan yang terburu-buru. Lalu saya pun menulis tanggapan di media yang sama ( http://id.acehinstitute.org/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=758:agama-dan-fundamentalisme&#038;catid=133:paradigma&#038;Itemid=261)</p>
<p>ADA beberapa hal yang saya pikir perlu dikritisi dalam tulisan saudara Alkaf Muchtar Ali Piyeung ini. Yang pertama adalah definisi tentang agama. Pertanyaan ini perlu saya ajukan karena apa yang kita sebut sebagai &#8216;agama&#8217; bisa sangat berbeda pengertiannya antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya. Agama adalah sebuah kata yang arti dan pemahamannya sangat tergantung pada dimana posisi kita berada dan model apa yang kita gunakan untuk memahaminya.</p>
<p>Ada banyak pendekatan yang bisa kita pakai dalam mendefinisikan agama, misalnya secara luas kita bisa memahami agama sebagai sebuah sistem kepercayaan akan adanya realitas lain diluar yang bisa ditangkap oleh panca indera. Dengan mendefinisikan agama melalui cara ini, maka sebuah kepercayaan yang mempercayai realitas lain diluar yang bisa ditangkap oleh Panca indera, itulah disebut agama. Tidak peduli kepercayaan tersebut membawa pesan kemanusiaan atau tidak. Dengan pendekatan seperti ini, model ajaran yang membolehkan pemimpin agamanya menggauli setiap pengikut perempuan, atau kepercayaan orang Indian atau suku primitif yang suka mengorbankan manusia pun akhirnya disebut agama juga.</p>
<p>Agama juga bisa dipahami sebagai satu bagian dari kumpulan kepercayaan terhadap arwah dan dewa-dewa yang kemudian oleh segelintir atau sekelompok orang atau umat lantas diterjemahkan (dipas-pas kan) dengan definisi orang barat. Ada juga yang yang mempercayai suatu kekuatan yang tidak terdefinisikan seperti kepercayaan orang-orang asia timur yang mempercayai ide tentang energi kehidupan (chi) yang menyebar mempengaruhi semua aspek hidup orang asia timur baik secara fisik maupun sosial.</p>
<p>Secara umum di zaman modern ini orang memaknai agama (religion) berdasarkan pada pemahaman orang Eropa tentang agama. Sehingga nama-nama agama yang ada sekarang pun orang banyak mengacu pada pemahaman orang Eropa sendiri. Contohnya istilah Buddhisme atau agama Buddha pertama kali dipakai pada tahun 1801. Istilah Hinduisme alias agama Hindu pertama kali digunakan pada tahun 1929. Para penulis sebelumnya lebih suka menggunakan istilah &#8220;kebijaksanaan orang jepang&#8221; untuk Buddha atau Ajaran Hindu untuk agama Hindu. (W. C Smith 1978 51-79).</p>
<p>John Bowen, dalam bukunya &#8220;religions in practice&#8221;, menjelaskan kalau ketika orang Eropa sendiri baru mulai mempelajari agama lain, mereka cenderung menggunakan agama yang familiar dengan mereka (Kristen dan Yahudi) sebagai model umum. Dengan pendekatan seperti ini mereka berasumsi bahwa semua agama harus memiliki tiga unsur utama, yaitu kitab suci, ekskusifitas dan pemisahan.</p>
<p>Pendekatan seperti ini (dengan Islam sebagai model utama) kemudian digunakan oleh pemerintah Indonesia untuk membuat definisi mengenai apa yang disebut agama dan apa yang bukan. Sehingga dari ratusan macam sistem kepercayaan tradisional yang ada di Indonesia, pemerintah Indonesia hanya mengakui 5 agama. Pendekatan seperti ini membuat agama Bali yang dominan dengan unsur animismenya kemudian dikategorikan sebagai Hindu. Agama orang tengger awalnya dikategorikan sebagai Buddha, tapi ketika tahun 1976 tim dari dirjen Hindu-Buddha melakukan penelitian dan ditemukan ada banyak kemiripan antara praktek keagamaan orang Bali, maka sejak saat itupun agama orang tengger dikategorikan sebagai agama Hindu, dan sejak saat itu pula mereka mulai meniru kebiasaan-kebiasaan ritual keagamaan orang Bali.</p>
<p>Karena begitu luasnya definisi Agama, maka agar supaya tidak membingungkan orang yang membaca dan sebelum dia meyakini bahwa setiap agama memiliki gagasan utama yang bersifat perennial, yaitu pesan kemanusiaan, sebenarnya sangatlah perlu Alkaf menjelaskan dengan lebih tegas tentang definisi Agama yang dia maksudkan. Tapi karena disini Alkaf tidak menjelaskan dengan tegas difinisi Agama yang dia maksudkan itu seperti apa, kita pun terpaksa menebak-nebak Agama yang dimaksud oleh Alkaf dalam tulisan ini berdasarkan cara pandang apa.</p>
<p>Dengan mengambil contoh hanya tiga agama saja Yahudi, Kristen dan Islam, sepertinya dalam tulisannya, Alkaf mendefinisikan Agama dengan cara pandang barat. Jadi untuk menanggapi tulisan ini selanjutnya saya pun akan menggunakan pendekatan yang sama (mudah-mudahan kesimpulan saya tidak salah)&#8211;sama seperti terburu-burunya Alkaf meyakini karakter suatu agama tanpa menjelaskan rinci bagaimana mengkategorikan sebuah agama.</p>
<p>Ketika Alkaf memahami dan mengkategorikan Agama berdasarkan cara pandang barat ini pun terlihat sekali kalau Alkaf mengambil kesimpulan dari suduh pandang yang sangat terburu-buru. Dalam kerangka argumen dalam tulisannya, ambil contoh misalnya pada kalimat, &#8220;Agama yang sejatinya memang untuk kebaikan dan kebahagiaan setiap manusia&#8221;, Alkaf menggambarkan seolah-olah Agama itu adalah suatu isme yang berdiri sendiri muncul dengan sendirinya dengan alasan yang dan karakter sebagai ajaran luhur untuk setiap manusia tanpa sama sekali dipengaruhi situasi kekinian yang melatari kelahiran agama tersebut. Padahal kenyataannya tidaklah begitu, karena sebetulnya semua ide agama barat yang kita kenal sekarang awalnya muncul sebagai reaksi terhadap situasi sosial politik aktual saat agama itu lahir, sehingga karakter setiap agama itu pun berbeda-beda. Sebut saja agama Yahudi misalnya, agama ini bukanlah agama yang dimaksudkan untuk menghadirkan kebaikan dan kebahagiaan setiap manusia.</p>
<p>Siapapun yang mengerti teologi Perjanjian Lama pasti menyadari kalau Tauratnya orang Yahudi itu sebetulnya hanya mengikuti perkembangan serta pengalaman bangsa itu sendiri. Dengan mengacu pada Tauratnya orang Yahudi, pada awalnya, Musa muncul sebagai antitesis atas &#8216;penjajahan dan perbudakan’ di Mesir Kuno terhadap orang Yahudi. Kemudian Musa memperkenalkan Yahweh sebagai &#8216;Tuhan bangsa Israel&#8217;. Yahweh ini kemudian menurunkan &#8216;hukum&#8217; kepada masyarakat Yahudi di jaman itu. Ketaatan orang Yahudi terhadap hukum itu sendiri dimengerti bukan sebagai kontrak sosial, melainkan kontrak pribadi orang Yahudi (bukan orang dari bangsa atau agama lain) dengan Yahweh sendiri.</p>
<p>Kristen (yang kita kenal hari ini) sendiri sebetulnya lebih ke sintesis daripada antitesis. Kristen itu adalah agama hasil campur-aduk dari berbagai mitologi yang ada di dalam peradaban dominan di masa Paulus hidup.</p>
<p>Misalnya, cerita kelahiran Yesus sendiri mirip dengan cerita tentang kelahiran Mithra, Dewa Matahari yang (Mithra) yang lahir dari dalam batu. Tarsus tempat Paulus lahir dan dibesarkan merupakan pusat kegiatan para penyembah Dewa Mithra sampai dengan masa keruntuhan Kerajaan Romawi. Hari Kelahiran Mithra sendiri dirayakan setiap tanggal 25 Desember, sejalan pergerakan Matahari yang muncul dari garis balik selatan menuju Utara. Dewa Mithra disembah setiap hari Minggu (inilah sebabnya dalam bahasa Inggris Minggu disebut Sunday).</p>
<p>A. N. Wilson dalam bukunya Paul the Mind of the Apostle menjelaskan: Para Ahli Purbakala memperlihatkan bahwa kemungkinan besar laskar Pompey, dalam kegiatan mereka ke Timur, yang pertama memperkenalkan aliran (Penyembah Dewa Mithra) ini ke Masyarakat Romawi. (dikutip dari tulisan Martinus Yosef : Latar Belakang Pemikiran Paulus)</p>
<p>Sementara logos di Injil Yohanes itu sendiri adalah hasil plagiat dari ide Plotinus yang dianggap sebagai pendiri neo-platonisme. Patung Yesus digendong Maria sendiri adalah fotokopi dari patung Isis-Horus. Isi teologi Kristen sendiri yang bersendikan tubuh-jiwa-roh itu nyata-nyata adalah hasil contekan dari filsafat Plato. </p>
<p>(Bagi yang beragama kristen, saya mohon maaf sebesar-besarnya karena saya tahu apa yang saya tulis ini tidak sesuai dengan apa yang anda imani, karena saya memang menulis ini bukan atas dasar Iman, tapi berdasarkan fakta-fakta ilmiah yang saya ketahui)</p>
<p>Maka kalau kita menggunakan cara pandang seperti ini, maka kitapun akan melihat kalau maraknya fundamentalisme dalam Islam belakangan ini pun sebenarnya tidak lain adalah antitesis terhadap keadaan dunia saat ini. </p>
<p>Maraknya fundamentalisme dalam Islam ini tidak bisa dilepaskan dari situasi ketidakberdayaan umat Islam saat ini menghadapi hegemoni barat.</p>
<p>Jadi fundamentalisme Islam sebenarnya juga harus dipahami sebagai antitesis terhadap hegemoni barat yang muncul dari realitas kekalahan Islam dalam segala segi peradaban, dimulai dari ketertinggalan dalam penguasaan IPTEK yang kemudian merembet ke segala segi, membuat umat Islam jadi tertinggal di bidang ekonomi, budaya sampai politik.</p>
<p>Dengan realitas umat Islam yang terpuruk di semua sisi seperti saat ini, fundamentalisme&#8211;dalam wujudnya yang paling akut terorisme &#8212; jelas adalah satu-satunya bentuk perlawanan yang paling rasional melawan hegemoni barat. Meskipun hal ini juga masih menjadi pedebatan, tapi kenyataannya memang demikian. Dan akibatnya oleh barat yang menguasai media mainstream cap teroris-pun dengan sukses dilekatkan pada ISLAM.</p>
<p>Kita sebagai orang Islam tentu sangat terganggu dengan Cap ini, tapi kalau kita terus bertahan dengan pola pikir seperti sekarang. ya apa boleh buat, cap seperti itu akan selamanya melekat.</p>
<p>Kalau kita orang Islam tidak ingin menggunakan cara seperti ini (fundamentalisme&#8211;dalam wujudnya yang paling akut terorisme) untuk melawan hegemoni barat, maka berarti kita harus mengejar segala ketertinggalan yang harus dimulai dari mengejar ketertinggalan dalam bidang IPTEK. Untuk melakukan hal ini, mau tidak mau kita umat Islam harus mengembangkan budaya berpikir ilmiah. Rasionalisme seperti yang dulu pernah digagas oleh aliran Mu&#8217;tazillah harus kita tumbuhkan kembali.</p>
<p>Tapi hal ini tentu tidak akan bisa diterima dan pasti akan ditolak mentah-mentah oleh para pengikut Islam fundamentalis yang dalam skala kecil (yang menolak berbagai dalil ilmiah karena dianggap bertentangan dengan al qur&#8217;an) sampai besar (fundamentalisme akut) banyak dianut oleh umat Islam saat ini. Sebab kaum fundamentalis adalah kaum yang percaya dan patuh mutlak pada sebuah doktrin atau teks yang ditafsirkan oleh seseorang di dalam kelompok mereka yang dianggap paling mengerti dan paham semua nuzul asbab suatu teks. </p>
<p>Ide rasional seperti ini bisa dipastikan akan ditolak mentah-mentah oleh kaum fundamentalis karena mereka memang jelas-jelas anti-rasional, bagi kaum fundamentalis, yang namanya kebenaran itu bersifat mutlak dan tidak dapat lagi dikompromikan.</p>
<p>Dialog dan diskusi apapun yang melibatkan kaum fundamentalis harus dimulai dari pengakuan bersama bahwa siapapun yang memahami agama dengan cara berbeda dengan mereka tidak lain adalah kaum pengacau keimanan. Jadi, bagaimana caranya mengajak kaum fundamentalis dalam sebuah kebersamaan dan kebangsaan, sebagaimana yang dianjurkan Alkaf?</p>
<p>Jadi, ide Alkaf untuk mengajak kelompok fundamentalis itu berdialog dengan suasana kebersamaan dan kebangsaan bukan hanya tidak tepat, lebih dari itu ini adalah ide yang absurd. Sama konyolnya seperti ide untuk mengawinkan Harimau dengan Kijang. </p>
<p>Wasssalam</p>
<p>Win Wan Nur<br />
Orang Aceh beragama Islam, kini berdomisili di Jakarta.</p>
<p>www.winwannur.blog.com<br />
www.winwannur.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sinar-atjeh.com/?feed=rss2&amp;p=114</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berita Terorisme di Aceh dan OPINI yang Dibentuk Media</title>
		<link>http://www.sinar-atjeh.com/?p=111</link>
		<comments>http://www.sinar-atjeh.com/?p=111#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 07:46:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sinar-atjeh.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Keterangan Photo: Win Wan Nur Berita Terorisme di Aceh dan OPINI yang Dibentuk Media Selasa 23-03-2010 By Win Wan Nur Setelah sebelumnya kita dicekoki dengan sajian drama Bank century dengan berbagai macam efek dramatisnya yang memenuhi hampir semua ruang berita di media massa indonesia. Hari-hari belakangan ini kita dibuat akrab dengan berita tentang keberadaan kelompok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="width: 300px; height: 207px;" border="0" width="300" align="left">
<tbody>
<tr>
<td scope="row">
<div><img src="http://sinar-atjeh.com/images/wwn.jpg" alt="" width="300" height="207" /></div>
<div><span class="style26"><span style="color: #0000FF;">Keterangan Photo: Win Wan Nur</span></span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Berita Terorisme di Aceh dan OPINI yang Dibentuk Media</strong></p>
<p>Selasa 23-03-2010</p>
<p>By Win Wan Nur</p>
<p>Setelah sebelumnya kita dicekoki dengan sajian drama Bank century dengan berbagai macam efek dramatisnya yang memenuhi hampir semua ruang berita di media massa indonesia. Hari-hari belakangan ini kita dibuat akrab dengan berita tentang keberadaan kelompok teroris di Aceh.</p>
<p>Menariknya berita teroris di Aceh itu ternyata bisa mengalihkan pandangan masyarakat dari kisah bail out Bank Century yang seolah tanpa tanding dalam menyedot animo masyarakat pada hari-hari sebelumnya.<span id="more-111"></span></p>
<p>Berkaitan dengan terungkapnya aktivitas pelatihan teroris di Aceh ini, banyak kalangan yang memuji kinerja polisi dengan keberhasilan pengungkapan yangb disusul dengan penangkapan anggota kelompok itu baik yang berada di Aceh ataupun di Pamulang. Tapi tidak sedikit pula yang meragukan kebenaran kisah teroris di Aceh ini.</p>
<p>Mereka yang meragukan kisah teroris di Aceh ini menduga kalau kisah pelatihan teroris di Aceh ini sengaja diciptakan untuk mengalihkan berbagai isu besar sekaligus untuk memulihkan citra polisi yang babak belur.</p>
<p>Keraguan ini cukup beralasan, karena setelah citra Polri melambung tinggi seusai keberhasilan pengungkapan pelaku peledakan bom Mariott yang berpuncak pada kematian Noordin M. Top, buronan teroris no. 1 yang selama ini dicari-cari yang kemudian diikuti dengan penangkapan dan disusul dengan penembakan tokoh penting yang terkait dengan peledakan Bom Mariott. Tidak lama kemudian citra Polri terjun bebas ke titik terendah karena kasus perseteruan Cicak-Buaya yang membuat sebagian besar masyarakat menilai kalau kasus ini hanyalah rekayasa dari Polri.</p>
<p>Apalagi berita penyerbuan yang dilakukan Polri ke lokasi pelatihan teroris di Jantho itu waktunya hampir bersamaan dengan kasus penyerangan markas HMI oleh Polisi di Makassar serta terungkapnya rekayasa kasus kriminal yang melibatkan institusi Polri. Pada tanggal 8 maret 2009, Kompas, salah satu koran nasional yang paling berpengaruh di negeri ini bahkan pada hari yang sama menuliskan berita tentang keberhasilan Polri mengungkap jaringan teroris yang sedang membangun kekuatan di Aceh http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/08/03052428/ditemukan.senapan.di.pidie dan berita tentang rekayasa yang dilakukan Polri terhadap sebuah kasus http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/08/03205214/rekayasa.pidana.harus.distop.</p>
<p>Dari dulu saya suka membaca Kompas, karena selama ini saya melihat dalam memberitakan sesuatu, Kompas selalu tenang dan tidak meledak-ledak. Mereka juga biasanya mencoba mengulas setiap berita dari sebanyak mungkin celah informasi yang bisa digali dan selalu mencoba melihat dari berbagai sisi sebelum sebuah peristiwa mereka beritakan. </p>
<p>Karena karakternya yang seperti ini Kompas tidak jarang dianggap sebagai sebuah media yang tidak bisa menetukan sikap dan tidak punya pendirian. </p>
<p>Tapi karena selama kejadian di Aceh ini saya banyak berada di daerah Jawa Timur dan Bali, dimana tiras media cetak sangat dikuasai oleh Jawa Pos yang terbit di Surabaya. Sehingga hampir setiap hari, entah itu waktu makan siang atau berhenti di kios kecil saya selalu mendapati koran Jawa Pos yang tergeletak untuk dibaca. Sehingga saya pun tidak bisa mengelak dari memperbandingkan cara kedua koran ini dalam memberitakan peristiwa di Aceh, negeri kelahiran saya tersebut.</p>
<p>Dan dari apa yang saya baca, saya pun langsung bisa menilai kalau cara kedua media bertiras besar di Indonesia ini dalam memandang dan memberitakan keberadaan teroris di Aceh sangat berbeda. </p>
<p>Kompas (dengan karakter khasnya yang kalem dan tidak meledak-ledak dan senantiasa berada di tengah) sebagaimana pada zaman Konflik dulu, sekarang pun menuliskan beritanya dengan cara pandang berimbang dan sangat menghindari label TERORIS ACEH dalam setiap berita yang mereka turunkan. Membaca berita tentang pelatihan teroris di Aceh melalui Kompas memberikan kesan bahwa media ini cukup memahami situasi perpolitikan dan dinamika sosial di Aceh dengan lebih baik.</p>
<p>Dalam memberitakan aktivitas terorisme di Aceh, Kompas terlihat sekali mencoba memahami masalah ini dari berbagai sisi dan mencoba menggali masalah dari nara sumber yang beragam. Dengan cara penggalian berita seperti ini Kompas bisa dengan gamblang memaparkan fakta bahwa kelompok teroris yang ada di Aceh bukanlah berakar di Aceh, melainkan &#8216;barang impor dari Jawa&#8217;. </p>
<p>Untuk menegaskan cara pandang seperti ini, Kompas misalnya sejak Kamis, 18 Maret 2010 menurunkan artikel berseri tentang terorisme di Aceh yang berjumlah 4 seri. Oleh Kompas artikel pertama ini http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/18/02584924/menyiapkan.jihad.di.aceh diberi judul, &#8216;Menyiapkan &#8220;Jihad&#8221; di Aceh&#8217;. Dalam artikel ini Kompas menceritakan kisah santri dari beberapa dayah di Aceh yang mendaftarkan diri dan ikut pelatihan militer yang diselenggarakan oleh FPI (Forum Pembela Islam) untuk berjihad ke Palestina. </p>
<p>Pandangan Kompas yang dengan tegas mengatakan bahwa aktivitas terorisme tidak berakar di Aceh tampak nyata pada artikel berikutnya yang diterbitkan pada hari Jumat, 19 Maret 2010 , Oleh Kompas artikel ini diberi judul &#8220;Bukan Peperangan Orang Aceh&#8221;, pandangan ini semakin dipertegas pada artikel berikutnya http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/20/03292566/bukan.rumah.tandzim.al.qoidah yang diberi judul &#8220;Bukan Rumah Tandzim Al Qoidah&#8221; terbit pada Sabtu, 20 Maret 2010 dan puncaknya pada hari Minggu, 21 Maret 2010 dalam seri terakhir artikel ini http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/21/02463269/mengejar.mas-mas.di.aceh yang diberi judul &#8220;Mengejar &#8220;Mas-mas&#8221; di Aceh&#8221;, meminjam judul sebuah film nasional yang dibintangi oleh Dwi Sasono, Kompas semakin jelas mengarahkan telunjuk ke Jawa sebagai biang kerok segala aktivitas terorsime yang ada di Aceh.</p>
<p>Sebaliknya Jawa Pos, yang merupakan surat kabar dengan tiras terbesar di bagian timur Jawa dan bagian tengah Indonesia. Dalam memberitakan aksi pelatihan teroris di Aceh, koran ini pun tetap konsisten mempertahankan sikap dan cara pandang yang sama seperti yang mereka tunjukkan pada masa konflik dulu. Membaca berita pelatihan terorisme di aceh melalui media ini memberi kesan bagi orang yang mengenal Aceh dengan baik kalau wartawan yang bekerja di media ini adalah wartawan amatiran yang lebih mementingkan sensasi dibanding esensi sebuah berita. Dalam kasus pelatihan kelompok teroris di Aceh ini misalnya, Jawa Pos, dengan serta merta dan penuh percaya diri melabeli kelompok tersebut sebagai TERORIS ACEH, seolah-olah perbuatan teror itu adalah identik dengan Aceh sehingga ideologi tersebut bisa dengan sendirinya tumbuh subur di Aceh. </p>
<p>Oleh Jawa Pos, keterlibatan para pelaku teror dari Jawa tidak dipaparkan secara gamblang, kalaupun ada pemaparan tentang itu, maka yang diberitakan adalah dugaan atau analisa yang diungkapkan oleh pejabat yang memang harus berbicara seperti itu. Bukan sebuah berita yang didapat melalui investigasi atau pengamatan langsung wartawannya. Contoh berita seperti ini bisa dibaca pada berita yang dimuat Jawa Pos pada Minggu, 21 Maret 2010 http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&#038;nid=121661 yang diberi judul &#8220;Endus Teroris di Aceh sejak 2009&#8243;. Dalam berita ini Jawa Pos mengutip ucapan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf yang mengungkapkan bahwa kasus ini bukan orisinil kasus Aceh. Cara pemberitaan seperti ini membuat siapapun yang tidak mengenal situasi Aceh dengan baik bisa dengan mudah berkesimpulan bahwa apa yang diungkapkan Irwandi ini adalah ucapan khas pejabat daerah untuk &#8220;buang badan&#8221; dari sebuah masalah yang terjadi di daerahnya.</p>
<p>Gaya pemberitaan yang sama juga bisa kita baca pada tulisan berikut http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&#038;nid=120701 yang diberi judul &#8220;Sel Teroris Aceh Rancang Aksi Baru&#8221;, di sini Jawa Pos hanya memberitakan apa yang telah dilakukan polisi di Aceh, seperti menyita senjata dan pelanggaran undang-undang yang disangkakan kepada pelaku. kemudian nama-nama pelaku sendiri diberitakan dalam bentuk inisial. Jawa Pos sama sekali tidak menyinggung kalau para perancang aksi baru itu ada di pulau Jawa.</p>
<p>Gaya dan nada pemberitaan yang sama, bisa kita temui dalam pemberitaan media-media lain yang berafiliasi dengan Jawa Pos. Contohnya bisa kita lihat pada berita http://www.metrobalikpapan.co.id/index.php?mib=berita.detail&#038;id=32177 yang diberi judul &#8220;Penyuplai Senjata Teroris Aceh&#8221; yang dimuat oleh Metro Balikpapan yang merupakan Grup Jawa Pos dan juga pada berita http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&#038;id=59643 yang diberi judul &#8220;Teroris Aceh untuk Dirikan Negara Islam&#8221; yang dimuat oleh www.jppn.com yang merupakan media online milik Jawa Pos.</p>
<p>Mungkin satu-satunya media dari Grup Jawa Pos yang memberitakan peristiwa pelatihan terorisme di Aceh ini dengan gaya yang berbeda hanya Harian &#8220;Rakyat Aceh&#8221;, yang tentu saja tidak mungkin berani menurunkan berita dengan gaya seperti yang ditunjukkan oleh induknya, karena pasti akan langsung mengundang kemarahan Rakyat Aceh.</p>
<p>Cara pemberitaan terhadap Aceh yang seperti ini secara konsisten diterapkan oleh Jawa Pos sejak zaman konflik berkecamuk di Aceh dulu. </p>
<p>Dulu ketika saya baru datang ke Bali dan daerah timur Jawa saya sempat merasa tersinggung dan kesal melihat betapa dangkalnya orang-orang di daerah ini terhadap persoalan-persoalan yang ada di Aceh. Dulu waktu masih tinggal di Bali, saya sering merasa kesal dan tidak jarang tersinggung setiap kali shalat jum&#8217;at dan berbincang-bincang dengan sesama muslim (yang minoritas di tempat ini) yang berasal dari Jawa Timur, karena setiap kali saya mengatakan bahwa saya berasal dari Aceh, mereka selalu menyerang saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan. Yang paling membuat saya tersinggung adalah ketika ketika tsunami melanda Aceh beberapa waktu yang lalu. Saat itu, hampir semua muslim asal Jawa Timur yang saya temui di Bali mempercayai kalau tragedi itu terjadi karena orang Aceh durhaka terhadap pemerintah Indonesia.</p>
<p>Dulu saya tidak paham kenapa mereka bisa berpikir sedangkal ini, tapi ketika belakangan saya menyadari betapa kuatnya pengaruh Jawa Pos terhadap masyarakat di wilayah ini, sayapun jadi maklum. </p>
<p>Sikap seperti itu terjadi pada kelompok masyarakat ini karena memang demikianlah OPINI terhadap Aceh yang dibuat oleh media yang paling berpengaruh di kawasan ini.</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Win Wan Nur<br />
Orang Aceh yang pernah tinggal di Bali</p>
<p>www.winwannur.blog.com<br />
www.winwannur.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sinar-atjeh.com/?feed=rss2&amp;p=111</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aceh dimata seorang pejuang keadilan</title>
		<link>http://www.sinar-atjeh.com/?p=96</link>
		<comments>http://www.sinar-atjeh.com/?p=96#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 10:27:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sinar-atjeh.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Keterangan Photo: Iwan Bahagia Aceh dimata seorang pejuang keadilan Kamis 18-03-2010 By Lauttawar (Aktivis WAA) Dari segi postur tubuh dan penampilan kelihatan Iwan Bahagia Syamsuddin Paoki ini biasa saja, tapi anak kelahiran kota Takengon ini selalu tegar melontarkan suaranya demi keadilan di bumi Aceh. Pemuda yang punya 7 bersaudara ini sangat berpotensi untuk menjadi motor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="width: 200px; height: 189px;" border="0" width="200" align="left">
<tbody>
<tr>
<td scope="row">
<div><img src="http://sinar-atjeh.com/images/iwan.jpg" alt="" width="200" height="189" /></div>
<div><span class="style26"><span style="color: #0000FF;">Keterangan Photo: Iwan Bahagia</span></span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Aceh dimata seorang pejuang keadilan</strong></p>
<p>Kamis 18-03-2010</p>
<p>By Lauttawar (Aktivis WAA)</p>
<p>Dari segi postur tubuh dan penampilan kelihatan Iwan Bahagia Syamsuddin Paoki ini biasa saja, tapi anak kelahiran kota Takengon ini selalu tegar melontarkan suaranya demi keadilan di bumi Aceh.<br />
Pemuda yang punya 7 bersaudara ini sangat berpotensi untuk menjadi motor dimasa depan Aceh, tapi sayangnya pemerintah Aceh, khusunya pemerintah daerah tidak pernah melihat kemampuan anak2 tempatan yg berpotensi.<br />
Kemampuannya menggunakan Computer dan berbahasa Inggris (pasif), dan aktiv di berbagai kegiatan sosial adalah salah satu yg bisa digunakan pemerintah daerah untuk maju kedepan.<br />
Saya sangat tertarik dengan anak yg kuliah di STAI Gajah Putih Takengon, Aceh Tengah ini, karena saya lihat jarang2 saja anak Gayo yang mahu aktiv memperjuangan keadilan di tanah Aceh.<br />
Ke ingin tauan sayapun tentang anak muda yg masih bujang ini bertambah2, jadi satu hari saya kontak dia dan minta pendapat dia tentang Aceh.<br />
Sebagai Aktivis World Acehnesse Association di Denmark, tentu saja saya bangga melihat anak muda ini, yg tak pernah henti memperjuangkan demokrasi di negeri Aceh.</p>
<p>Apa kata dia tentang Aceh:<span id="more-96"></span></p>
<p>(<em>Tulisan di bawah ini adalah asli dari Iwan Bahagia</em>)</p>
<p>Sebagai masyarakat Aceh, melihat secara seksama apa yang sedang terjadi di bumi yang pernah berjuluk Nanggroe Aceh Darussalam (sekarang Aceh), adalah negeri seribu cerita. Dimana dunia internasional pernah menyorot Provinsi tersebut karena beberapa kejadian “luar biasa” yang melanda Aceh. Berikut adalah beberapa diantaranya.</p>
<p><strong>Konflik berkepanjangan kurang dari Tiga Dekade.</strong></p>
<p>Di deklarasikannya Gerakan Aceh Merdeka pertama kali di deklarasi pada 4 Desember 1976 sebagai afiliasi dari gerakan Darul Islam yang pernah dicetuskan sebelumnya oleh Muhammad Daud Beureueh salah satu tokoh ulama besar Aceh pada masa itu telah menimbulkan banyak hal yang terjadi, ketidakpuasan mereka atas pemerintah Republik Indonesia ketika itu telah menjalin ketidak harmonisan dengan pemerintah melahirkan konflik antar kedua belah pihak tersebut, sehingga konflik brkepanjanganpun muncul dengan mengorbankan banyak nyawa rakyat Aceh dan Tentara Nasional Republik Indonesia.</p>
<p><strong>Gempa dan Tsunami 26 Desember 2004.</strong></p>
<p>Gempa kekuatan gempa dan Tsunami Aceh-Nias pada awalnya dilaporkan mencapai 9.0 R. Pada Februari 2005 dilaporkan gempa berkekuatan 9.3 R. Meskipun Pacific Tsunami Warning Center telah menyetujui angka tersebut. Namun, United States Geological Survey menetapkan 9.1 R. (sumber wilkipedia bebas) dengan korban tewas terbanyak di Asia yaitu lebih dari 126.915, hilang 37.063 kurang dari 517.000 kehilangan tempat tinggal. sedangkan ketinggian ombak Tsunami mencapai ketinggian 30 Meter. hingga saat ini Tanggal 26 Desember diperingati sebagai moment peringatan Tsunami di Aceh.<br />
Proses Damai GAM – RI</p>
<p>Delegasi Pemerintah Republik Indonesia bersama delegasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) secara resmi telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) perdamaian di Helsinki, Finlandia, Senin 15 Agustus 2005. Pertemuan yang disponsori oleh mantan presiden Finlandia Martti Ahtissaari, yang juga presiden Crisis Management Initiative (CMI), juga disaksikan ribuan atau bahkan jutaan rakyat Aceh melalui siaran televisi di bumi Serambi Mekkah itu dengan suka Kesepakatan tersebut akan memberikan amnesti bagi mantan anggota GAM dan diikuti dengan perlucutan senjata anggota GAM serta penarikan pasukan TNI/POLRI guna mengakhiri konflik yang berlangsung selama tiga dasawarsa.</p>
<p>Kesepakatan itu juga akan membatasi gerakan TNI/POLRI di Aceh, yang akan dipantau oleh tim pemantau ASEAN dan Uni Eropa.</p>
<p>MoU tersebut mulanya dijadwalkan ditandatangani sekitar pukul 08:30 waktu Helsinki (15:30 WIB). </p>
<p><strong>Dinamika Politik Partai Lokal</strong></p>
<p>Pasca penanda tanganan MoU Helsinki, butir-butir kesepakatan yang ditandatangani antara GAM dan Pemerintah RI kemudian direalisasikan dalam kehidupan masyarakat Aceh, item yang menjadi sorotan internasional adalah partai local (parlok) dan system pemilihan kepala daerah (Gubernur, Walikota, Bupati). Yang menarik dari proses pemilihan kepala daerah tersebut adalah calon kepala daerah yang dapat mengajukan menjadi calon kepala daerah di provinsi Aceh (dulu disebut provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) secara independent (non parpol).<br />
Pemilu 2009 sendiri akan dikenang dalam sejarah nasional sebagai pemilu paling pluralis setelah 1955. Pada pemilu kali ini partai lokal diikutkan untuk wilayah pemilihan Aceh. Implikasi keberadaan partai lokal di Aceh tidak lepas dari hasil kesepakatan MoU Helsinki 2005 yang kemudian diterjemahkan dalam UU Pemerintahan Aceh (UU No. 11/2006 Bab XI pasal 75-88) dan peraturan organik lainnya (PP No 20/2007 tentang Partai Lokal di Aceh dan Qanun No. 7/2007 tentang penyelenggaraan pemilu di Aceh).<br />
Hasilnya 6 partai lokal pun lolos verifikasi sesuai dengan ketetapan Komite Pemilihan Independen (KIP).Berdasarkan yuridis, keenam partai lokal yang ikut pemilu: Partai Aceh (PA), Partai Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA), Partai Rakyat Aceh (PRA), Partai Bersatu Atjeh (PBA), Partai Daulat Aceh (PDA), dan Partai Aceh Aman Sejahtera (PAAS) adalah sah legitimasinya. Muncul juga partai pengusung perempuan , Partai Aliansi Rakyat Aceh (PARA) yang dinyatakan tidak lulus karena tidak memenuhi persyaratan dan ketentuan KIP.<br />
Dari keenam partai, PA-lah yang paling menonjol. Dibentuk oleh KPA, organisasi sosial-politik yang tak lain transformasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Simbol dan platform politik sangat khas, gabungan antara retorika politik baru dan organisasi massa ala clandestine. Maklum PA sendiri diisi oleh para intelektual dan eks kombatan yang mampu memobilisasi serta akhirnya memenangkan pertarungan politik dengan menguasai 47 %, yakni 33 kursi parlemen Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA)dari 69 kursi yang disediakan DPRA. Serta menguasai kursi Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) di Aceh.</p>
<p><strong>Calon Independen</strong></p>
<p>Dibolehkannya calon independen di daerah Nanggroe Aceh Darussalam (Pasal 67 ayat 1 huruf d<br />
UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh<br />
Aceh) semakin mewarnai eskalasi politik di Aceh dengan diusungnya Calon Gubernur/wakil, walikota/wakil, serta Bupati/Waki. Keputusan tersebut juga merupakan aplikasi dari hasil MoU damai Helsinki antara Pemerintah RI dan GAM, dimana Ada hal yang perlu diperhatikan, yakni mengenai istilah yang digunakan, apakah menggunakan istilah independent atau perseorangan. Jika kita telesuri, awalnya istilah ini dalam UU No.11 tahun 2006 tentang pemerintahan Aceh. Dalam pasal 67 ayat(1) disebutkan “Pasangan calon Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, dan Walikota/Wakil walikota sebagaimana dimaksud dalam pasal 65 ayat (1) diajukan oleh: (a) partai politik atau gabungan partai politik, (b) partai politik lokal atau gabungan partai politik lokal, (c) gabungan partai politik dan politik lokal; dan/atau (d) perseorangan. menariknya, pasangan irwandi-Nazar yang tidak diusung oleh partai berhasil mengungguli calon-calon usungan partai nasional yang pernah jaya maupun yang kharismatik serta politikus lainnya yang mengikuti bursa calon pada saat itu.</p>
<p>Akhirnya mahkamah Konstitusi (MK) harus direpotkan dengan pro kontra calon independent karena hasil pemilihan di Aceh serta dinamika perpolitikan di Aceh telah membuat banyak pihak di Indonesia tertarik ubtuk mengusulkan Ujji Materil tentan calon independent, pada akhirnya juga MK telah memberikan kepastian hukum melalui putusan MK No.5/PUU-V/2007 mengenai uji materi UU No.32/2004 tentang Pemerintahan daerah terhadap UUD NKRI 1945. MK mengabulkan sebagian dari sejumlah pasal yang diajukan pemohon, khususnya terhadap pasal 56 ayat(2), pasal 59 ayat(1), pasal 59 ayat(2) dan pasal 59 ayat (3) UU No.32/2004, yang telah membuka jalan adanya pengajuan calon kepala daerah secara perseorangan. Sedangkan untuk pasal lain, MK menyatakan tetap berlaku, termasuk pasal-pasal yang membuat ketentuan pencalonan kepala daerah melalui parpol. Keputusan MK tersebut tidak merekomendasikan tentang pengaturan lebih lanjut mengenai calon perseorangan, juga tidak memberikan batasan masa transisi tentang pelaksanaan putusan. MK berpendapat bahwa KPU, berdasarkan pasal 8 UU No. 22/2007 tentang Penyelenggaraan Pemilu, dapat membuat aturan untuk mengisi kekosongan hukum persyaratan calon perseorangan. </p>
<p>Ternyata Aceh membuka mata Nasional dan Internasional.</p>
<p>Pada beberapa dinamika kehidupan masyarakat Aceh baik secara social Politik, Budaya serta Agama telah memberikan kedewasaan politik nasional maupun internasional, karena pertama kalinya dalam sejarah terlibatnya partai politik lokal dan calon independent dalam pemilihan umum di daerah pada satu Negara. Menaraiknya lagi beberapa daerah telah menjalankan proses legitimasi UU tentang calon independent di beberapa kota di Indonesia, diantaranya Jakarta yang notabene nya adalah ibu kota Negara, serta beberapa daerah mengajukan uji materil ke MK seperti yang dilakukan para politisi Kabupaten Lombok Tengah.<br />
Satu hal yang paling memberikan prokontra para politikus pusat adalah tentang penolakan judicial review beberapa pasal dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Pasal-pasal mereka kritisi antara lain Pasal 1 ayat (4), Pasal 8, Pasal 9, Pasal 13 ayat (1) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 yang dinilai bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1), Pasal 28 D ayat (1) dan (3), dan Pasal 28 I ayat (2) jo Pasal 1 ayat (2) UUD 1945. Pasal 1 ayat (4) dan pasal 8 mengatakan bahwa pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden haruslah pasangan yang diusulkan oleh Partai Politik atau gabungan Partai Politik peserta Pemilu. Pasal tersebut tentu saja mematikan harapan para calon independen untuk menjadi (paling tidak) calon Presiden. Kemudian pasal 9 dan pasal 13 ayat (1) juga secara implisit tidak memungkinknan adanya calon independen.pasal karena pasal-pasal dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 dianggap tidak bertentangan dengan UUD 1945. Pasal 9 undang-undang tersebut bersifat legal policy atau kebijakan hukum yang terbuka guna menciptakan sistem multipartai yang lebih sederhana. Dasar lainnya adalah pasal 6A ayat 2 UUD 1945 yang menyatakan bahwa capres dan cawapres diusulkan oleh parpol atau gabungan parpol. Hal ini diperkuat dengan adanya pembatasan suara 20 % kursi di DPR dan 25 % suara yang sah Nasional dalam Pemilu Legislatif.</p>
<p>Dimata internasional sendiri proses pemilihan serta hasil yang memuaskan tentang MoU yang melahirkan UUPA (yang beberapa isinya masih jauh dari harapan, dan saat ini akan ditinjau ulang) yang juga menelurkan lahirnya Partai Politik Lokal serta calon independent telah berhasil mendapatkan apresiasi positif baik dari Negara tetangga, ASEAN, PBB, maupun dari Negara-nera Eropa dan Negara sahabat. lainnya, karena dunia telah melihat langsung bagaimana proses tersebut terjadi.</p>
<p>Yang terpenting adalah proses perdamaian Aceh, artinya secara keseluruhan konflik 3 Dekade akhirnya reda, pertumpahan darah tidak terjadi, dan masyarakat Aceh merasa damai dengan tanpa trauma sengan apa yang telah terjadi sebelumnya. Hal yang paling prinsipil pada perdamaian Aceh adalah digunakannya ide-ide resolusi damai dibeberapa Negara yang berkonflik, bahkan menjadi topic utama dikalangan organisasi perserikatan Negara-negara maupun organisasi Negara-negara di Asia-Afrika lainnya. bagaimana resolusi damai Aceh mampu diaplikasikan untuk perdamaian dunia.</p>
<p>Iwan Bahagia SP<br />
Manager Bidang Publikasi, Advokasi dan Kebijakan Publik<br />
Lembaga Swadaya Masyarakat<br />
Masyarakat Transparansi Pembangunan<br />
LSM M ANT@P_ACEH</p>
<table style="width: 300px; height: 109px;" border="0" width="300" align="left">
<tbody>
<tr>
<td scope="row">
<div><img src="http://sinar-atjeh.com/images/mantap.jpg" alt="" width="300" height="109" /></div>
<div><span class="style26"><span style="color: #0000FF;">Keterangan Photo: Lambang MANTAP</span></span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sinar-atjeh.com/?feed=rss2&amp;p=96</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masalah Kopi di Tanoh Gayo, Penghasil Kopi Arabika TERBESAR di Asia</title>
		<link>http://www.sinar-atjeh.com/?p=93</link>
		<comments>http://www.sinar-atjeh.com/?p=93#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 06:08:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sinar-atjeh.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Keterangan Photo: Win Wan Nur Masalah Kopi di Tanoh Gayo, Penghasil Kopi Arabika TERBESAR di Asia Kamis 10-03-2010 By Win Wan Nur Tadi saya membaca sebuah diskusi menarik di Forum Diskusi Prospek Kopi Arabica di Tanoh Gayo. Melihat diskusi ini, saya salut melihat kawan-kawan yang berpikir begitu panjang soal masa depan kopi Gayo. Ada macam-macam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="width: 300px; height: 207px;" border="0" width="300" align="left">
<tbody>
<tr>
<td scope="row">
<div><img src="http://sinar-atjeh.com/images/wwn.jpg" alt="" width="300" height="207" /></div>
<div><span class="style26"><span style="color: #0000FF;">Keterangan Photo: Win Wan Nur</span></span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Masalah Kopi di Tanoh Gayo, Penghasil Kopi Arabika TERBESAR di Asia</strong></p>
<p>Kamis 10-03-2010</p>
<p>By Win Wan Nur</p>
<p>Tadi saya membaca sebuah diskusi menarik di Forum Diskusi Prospek Kopi Arabica di Tanoh Gayo.</p>
<p>Melihat diskusi ini, saya salut melihat kawan-kawan yang berpikir begitu panjang soal masa depan kopi Gayo.</p>
<p>Ada macam-macam persoalan perkopian yang dibicarakan dalam forum ini dari yang konyol sampai yang serius.<span id="more-93"></span></p>
<p>Misalnya di forum ini ada yang meragukan keterkenalan Kopi Gayo dan membandingkannya dengan terkenalnya Kopi UK alias Kpoi Ulee kareng yang tidak menggunakan Kopi Gayo, alias Ulee Kareeng, padahal ini jelas seperti membandingkan keterkenalan M. Basir mantan kiper Persiraja (kiper Persiraja yang sekarang saya tidak tahu namanya) dengan Sebastien Frey Kiper Fiorentina. Yang satu adalah Kiper terbaik yang sangat terkenal di Aceh, sementara yang satu lagi adalah kiper kelas menengah yang meskipun nggak dipanggil ke Timnas Perancis, tapi bermain di klub menengah di salah satu liga terbaik dunia.</p>
<p>Kopi UK hanyalah kopi konsumsi lokal yang kualitas dan penangananannya sama sekali tidak memenuhi persyaratan ekspor. Kopi ini hanya dikenal oleh para peminum kopi lokal yang karena beberapa kali diulas di TV kemudian jadi terkenal juga secara nasional. Tapi, para konsumen kopi Internasional yang memilih Kopi yang diminum dengan panduan ahli pencicip rasa, yang berlangganan majalah kopi untuk memastikan kopi yang dia minum adalah kopi terbaik jelas sama sekali tidak mengenal kopi Ulee Kareeng dan kalau pun mengenalnya tidak akan pernah berpikir untuk mengklasifikasikan kopi Ulee Kareeng menjadi salah satu jenis kopi unggulan. Sementara Kopi gayo meskipun bukan yang terbaik, tapi termasuk salah satu jenis kopi yang sangat dikenal dan sering diulas oleh para pecinta kopi dunia. </p>
<p>Seperti M. Basir yang merupakan Kiper terbaik di Aceh, dia sangat terkenal di Aceh, tapi tentu saja tidak ada pelatih yang cukup gila untuk menjadikannya kiper di sebuah klub yang berada di zona degradasi di sebuah liga eropa tidak terkenal, semacam liga Latvia.<br />
Kemudian ada peserta forum yang mengaitkan masa depan Kopi Gayo dengan adanya CAFTA dan menghubungkannya dengan produksi kopi Vietnam. Beberapa dari teman-teman ini rupanya khawatir dengan masa depan pasar Kopi Gayo dengan adanya CAFTA ini.</p>
<p>Menanggapi ini ada dua orang yang bernama hadian dan Pak Sahrial Wahab yang sama sekali tidak khawatir dengan prospek kopi Gayo dengan adanya pasar bebas Cina dan ASEAN ini.</p>
<p>Dalam diskusi ini saya berada dalam kubu yang sama dengan Hadiyan dan Pak Sahrial Wahab dan bersepakat dengan mereka bahwa CAFTA ini sebenarnya sangat tidak nyambung kalau dikaitkan dengan kopi Gayo, sebab keberadaan CAFTA memang sama sekali tidak membawa pengaruh signifikan terhadap pangsa pasar Kopi Gayo, karena negara-negara CAFTA bukanlah pasar yang secara tradisional merupakan pasar yang menjadi tujuan Kopi Gayo.</p>
<p>Kemudian ketakutan dengan adanya CAFTA dalam kaitannya dengan produksi kopi robusta Vietnam yang dikhawatirkan akan menurunkan daya saing kopi Gayo di pasar dalam negeri juga saya pikir sama sekali tidak ada dasarnya. Sebab Kopi Gayo adalah kopi arabica yang memang tidak dipasarkan di dalam negeri. Bahkan sepengetahuan saya, Kopi Gayo yang dijual di Starbuck-pun mereka beli dari Importir Kopi Gayo di Amerika sana, tidak langsung dari Takengen, jadi apa yang perlu ditakutkan dari Vietnam.</p>
<p>Kekhawatiran ini juga tidak ada dasarnya meskipun sekarang katanya Vietnam sudah mulai mengembangkan kopi Arabika.</p>
<p>Kita tidak perlu khawatir karena untuk mengembangkan Kopi Arabica tidaklah gampang, banyak syarat khusus yang dibutuhkan, terutama yang berkaitan dengan ketinggian dan jenis tanah Vulkanik. Ketinggian minimal untuk menanam kopi Arabica bermutu lumayan adalah 800 mdpl. Tapi untuk menghasilkan Kopi Arabica bermutu baik, dibutuhkan lokasi dengan ketinggian antara 1200-1700 Mdpl. Ketinggian lokasi tanam inilah yang mutu Kopi Singah Mulo an Ronga-ronga jauh di bawah mutu kopi Arabica produksi Lukup Sabun.</p>
<p>Syarat yang khas ini pula yang membuat di Asia, tidak banyak tempat yang bisa memenuhi persyaratan ini. Itulah sebabnya kenapa DATARAN TINGGI GAYO merupakan penghasil Kopi Arabica TERBESAR di ASIA.</p>
<p>Meskipun dikatakan Vietnam telah mampu meningkatkan produktivitasnya lebih dari 5 kali lipat seperti harapan menterinya, tapi masalah kopi ini bukanlah hanya sekedar urusan produktivitas, tapi yang terpenting di atas semuanya adalah KUALITAS RASA yang disukai pasar.</p>
<p>Untuk sebagai perbandingan bisa dilihat dalam komentar dalam diskusi yang berlangsung di www.coffeeforums.com</p>
<p>Untuk Kopi Vietnam baca di sini : http://www.coffeeforums.com/viewtopic.php?f=10&#038;t=7203</p>
<p>Any &#8221;experts&#8221; out there who can give me information about the taste of Vietnamese coffee versus coffees from other countries.</p>
<p>I find Viet coffee never tastes the same when I bring it home, maybe it&#8221;s the water there/here ?</p>
<p>from what I know about Vietnamese coffee&#8217;s, they are mostly robusta&#8217;s <img src='http://www.sinar-atjeh.com/wp-includes/images/smilies/icon_redface.gif' alt=':oops:' class='wp-smiley' /> </p>
<p>3rd biggest producer globally, but indeed mainly robusta (including now some &#8220;gourmet&#8221; robustas that are washed, polished etc&#8230;but still taste like robusta <img src='http://www.sinar-atjeh.com/wp-includes/images/smilies/icon_evil.gif' alt=':evil:' class='wp-smiley' />  ). Some Arabica being produced n the highlands, the government is now trying to focus energies on developing the Arabica sectors. Strong internal consumption of mainly robusta- maybe harks back to the French colonial periods. Despite the French being known for their cuisine, their coffee have traditionally been low grade arabica, robusta or anything spiced up with roasted chicory. I think the French generally got the short end of the stick when the Colonial powers carved up the Coffee growing world- with the exception of perhaps Martinique</p>
<p>Untuk Kopi Gayo, baca di sini : http://www.coffeeforums.com/viewtopic.php?f=10&#038;t=7014</p>
<p>Indonesia obviously grows a lot of coffee. However most of this is Robusta, only around 13% is Arabica. Of this 13% around 60% of all Arabica comes out of Aceh (the PKGO coop, PT Hollands Gayo Mountain, Gayoland etc) or North Sumatra (Mandehlings, Lintongs, Sidikalangs etc).</p>
<p>The Acehnese Arabica&#8217;s are periennial favorites, and a lot make their way to the USA through companies such as Fairtrade advocate ForesTrade&#8230;</p>
<p>Personally I rate Acehnese Arabica in the top 5 of coffee I roast from Indonesian origins. However I also think there are some really great origins out there that do not get the benefit and support through NGO funding that Aceh gets. With little more funding shared out through the rest of Indonesia, it would benefit coffee in general here.</p>
<p>Komentator di kedua diskusi ini adalah orang yang sama.</p>
<p>Di pasar Dunia, Kopi Gayo dikenal sebagai jenis Kopi Premium dengan produksi terbatas sebagaimana halnya kopi Ijen, Kolombian Supremo, Jamaican Blue Mountain, Kona Hawai, Harar dan lain-lain. Kopi-kopi jenis ini bisa dikatakan tanpa pesaing karena masing-masing punya ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh kopi yang berasal dari daerah lain.</p>
<p>Kopi jenis ini berbeda dengan Kopi Brazil atau Kolombia biasa yang dianggap sebagai barang kodian. Meskipun memang harga Kopi Premium inipun fluktuatif mengikuti harga kopi produksi massal.</p>
<p>Jadi daripada pusing tidak berguna memikirkan Vietnam dan CAFTA, saya pikir justru jauh lebih penting kita pikirkan adalah bagaimana cara meningkatkan KUALITAS kopi yang diproduksi oleh petani Tanoh Gayo.</p>
<p>Karena sebagaimana disampaikan seorang peserta forum ini yang bernama Zulfikar Ahmad, menurut laporan International Coffee Organization (ICO) Jepang dan USA menunjukan angka penurunan komsumsi dari tahun ke tahun. </p>
<p>Perlu kita ketahui bersama bahwa penurunan ini bisa terjadi adalah akibat dari penurunan kualitas kopi yang diproduksi dunia, sehingga peminum fanatik kopi beralih ke minuman lain.</p>
<p>***</p>
<p>Sepuluh tahun silam, saya diundang oleh FAO untuk mengikuti Konferensi meja Bundar Kopi se- Asia pasifik di Chiang Mai, Thailand. </p>
<p>Dalam forum yang saya ikuti itu, panitia juga mengundang kalangan roaster yang menjadi sasaran akhir ekspor biji kopi sebelum mereka ubah menjadi kopi siap konsumsi.</p>
<p>Salah seorang yang hadir dari kalangan roaster itu bernama DR. Ernesto Illy (yang saat itu berumur 75 tahun, beliau meninggal pada 3 februari 2008 lalu) http://coffeegeek.com/opinions/coffeeatthemoment/02-04-2008 . DR. Illy yang sangat dihormati semua peserta konferensi ini adalah penemu mesin espresso pertama sekaligus pemilik Illy Cafe yang merupakan salah satu roaster Kopi terbesar dan paling berpengaruh di dunia. Dr Illy, mewarisi perusahaan yang sebelumnya memproduksi Coklat ini dari bapaknya.</p>
<p>Dalam forum ini dan dilanjutkan dengan bincang-bincang sesudah acara, DR. Illy menceritakan kepada saya kalau menurunnya konsumsi kopi di beberapa negara pengkonsumsi kopi terbesar diakibatkan oleh meluasnya pembudidayaan kopi Catimor dalam industri pertanian kopi dunia (baca : http://www.fao.org/docrep/003/x6938e/x6938e06.htm.) Menurut DR. Illy, saat kami berbicara waktu itu sudah lebih dari setengah produksi kopi dunia adalah jenis Catimor.</p>
<p>Dalam bahasa DR. Illy (bahasa Inggris berlogat Italia), jenis kopi Catimor ini dideskripsikan sebagai &#8220;High yield but bad in taste, makes farmers happy but not consumers&#8221;</p>
<p>Menurut DR. Illy, Catimor ini memang menarik jika dilihat dari jumlah produksi, tapi sangat tidak menarik dari segi kualitas. Meskipun kopi varietas ini telah secara resmi dikategorikan sebagai kopi arabica, tapi karena secara genetik Kopi ini memiliki gen kopi Robusta, maka dalam karakter rasa Kopi catimor ini masih tersisa karakter robusta yang kurang disukai oleh penikmat kopi Eropa dan Amerika yang merupakan pangsa pasar terbesar kopi Dunia (lebih dari 70%). Kata Dr. Illy, biji Kopi Catimor ini banyak mengandung minyak sebagaimana halnya biji Kopi Robusta.</p>
<p>Keluhan DR. Illy ini juga merupakan keluhan dari semua roaster yang hadir dalam konferensi itu, mereka semua mengeluhkan hal yang sama. Kalau ingin merebut kembali pangsa pasar peminum kopi, para Roaster itu menyarankan para petani untuk menanam kopi jenis Bourbon (Seperti jenis kopi yang ditanam di Gayo sekitar 40 tahunan yang lalu). Kopi jenis Bourbon inilah yang sebenarnya telah membuat nama Kopi Gayo melejit di kalangan penggemar kopi dunia.</p>
<p>Dalam konferensi itu, delegasi Vietnam menjadi bulan-bulanan seluruh peserta konferensi (termasuk saya) karena mereka seperti orang autis yang hanya berfokus pada peningkatan produksi semata (dalam makalah yang disampaikan wakil mereka dalam konferensi itu, Vietnam melulu menceritakan tentang usaha mereka memperluas dan meningkatkan produksi kopi). Padahal pada saat itu seluruh peserta konferensi datang ke konferensi tersebut dengan sebuah isu besar bernama OVER PRODUCTION alias kelebihan produksi yang tidak terserap pasar, yang pada tahun itu sudah mencapai 3,7%. </p>
<p>Pada tahun itu produksi kopi dunia ada 113.033.000 karung yang setara dengan 6.781.980 Ton. Sementara Produksi Kopi Indonesia pada tahun itu adalah 6.987.000 Karung yang setara dengan 419.220 Ton. Jadi kalau ada 3,7 % dari jumlah itu yang tidak terserap pasar artinya jumlah itu adalah 4.182.221 atau hampir 60% jumlah produksi Kopi Indonesia.</p>
<p>Atau kalau kita bandingkan dengan produksi kopi Gayo, Kalau di tanah Gayo kita asumsikan ada 90 ribu hektar lahan Kopi (pembulatan ke atas) dengan produksi antara 700-1000 Kg per tahun, kita hitung maksimal ada 1.500.000 Karung kopi per tahun, maka artinya setiap tahun ada kopi sebanyak tiga kali lipat produksi seluruh kopi Gayo yang tidak terserap pasar.</p>
<p>Jadi begitulah kira-kira peta perkopian di kawasan ini, sehingga kalaupun Vietnam kemudian mengembangkan Kopi Arabica (sebagaimana yang telah dilakukan Thailand), jelas mutunya tidak akan dapat menyaingi mutu Kopi Gayo dan pasarnya juga nantinya tidak akan mengganggu pasar Kopi Gayo. Karena dengan karakter tanah dan ketinggian tempat yang ada di Vietnam, paling banter mereka hanya akan bisa maksimal menghasilkan Kopi Arabica dengan mutu paling tinggi seperti Kopi Singahmulo.</p>
<p>Sementara di berbagai belahan dunia, orang mulai menyadari pentingnya kualitas ini.</p>
<p>Contohnya misalnya terjadi pada beberapa perkebunan Kopi di Jawa.</p>
<p>Sadar akan pentingnya kualitas dalam industri perkopian ini, beberapa perkebunan kopi besar di Jawa (yang memiliki luas lahan di atas 1000 hektar) belakangan juga mulai mengubah strategi dalam pemilihan jenis tanaman kopi. Contohnya perkebunan Kali Klatak yang karena menyadari harga Kopi Arabica yang dua kali lipat lebih mahal dibanding Kopi robusta, dulu menanam kopi Arabica di lahan mereka yang memiliki ketinggian di bawah 800 Mdpl, tapi karena mutu kopi yang dihasilkan tidak bagus dan memiliki banyak defects (biji kopi rusak), ujung-ujungnya ternyata lebih menguntungkan menanam Robusta, karena itulah tahun ini mereka membongkar semua kopi Arabica di kebun mereka dan menggantinya dengan Robusta.</p>
<p>Contoh lain adalah Burma yang sejak beberapa tahun sebelum konferensi itu telah mem-ban kopi jenis Catimor dan hanya menanam Bourbon, sehingga mereka berhasil mendapatkan harga yang baik untuk kopi mereka (bersyukurlah bahwa lahan yang cocok untuk ditanami Kopi di Burma itu sedikit sekali).</p>
<p>***</p>
<p>Sangat menarik ketika peserta forum yang bernama Hadiyan mengaitkan Kopi Gayo dengan Kopi Blue Mountain, menurut hadiyan Kopi gayo harus mempertahankan dan meningkatkan kwalitas dan menjaga brand image produk supaya bisa seperti Blue Mountain yang harganya jauh lebih mahal dibanding kopi Gayo (kopi gayo sekitar US$ 5/kg sedangankan Jamaica coffee blue mountain bisa mencapai US$ 160/kg)</p>
<p>Saya sangat sepakat dengan Hadiyan meskipun saya tidak sepakat perbandingan harga antara kopi gayo dan coffee blue mountain yang dia sebutkan, karena meskipun Blue Mountain jauh lebih mahal ketimbang kopi Gayo tapi perbedaannya tidak seekstrim yang digambarkan oleh Hadiyan, karena beda harga antara gayo Mountain Coffee dengan Jamaican Blue Mountain Coffee &#8216;hanya&#8217; sekitar 3 kali lipat saja, contohnya bisa dilihat pada harga yang dipatok oleh perusahaan Joe&#8217;s di http://www.joescoffeehouse.com/catalog.aspx?id=100 dimana Gayo Mountain dipatok seharga $16.95 dan Jamaica Blue Mountain dipatok seharga $51.95.</p>
<p>Apa yang membuat perbedaan harga yang mencolok antara Kopi Gayo dengan Kopi Blue Mountain itu adalah KESERAGAMAN dalam hal kualitas. </p>
<p>Kopi Gayo kualitasnya tidak seragam. Ketidak seragaman itu dimulai dari apa yang disebut dengan Kopi Gayo ini sendiri sebenarnya adalah berbagai ragam jenis dan kualitas Kopi dengan berbagai jenis karakter tanah dan ketinggian tumbuh yang terbilang ekstrim. Sekitar 700-an Mdpl di Singah Mulo, sampai 1500-an Meter di Lukup Sabun. Mulai dari yang tumbuh di lahan Vulkanis (Lukup Sabun, Bandar lampahan, Simpang balik sampai di bener Meriah) dan bukan vulkanis di Jagong Jeget, Batu Lintang dan sekitarnya. Lalu Kopi Gayo juga terdiri dari berbagai varietas Kopi yang berbeda-beda.</p>
<p>Kemudian juga ketidak seragaman dalam penanganan pasca panen sehingga kualitasnya tidak pernah bisa standar.</p>
<p>Atas dasar itulah, kalau kita memang ingin membangun Brand Kopi Gayo yang kuat, saya pikir yang pertama kali harus kita lakukan bukanlah memacu produktivitas, tapi meningkatkan kualitas yang bisa kita mulai dengan mengklasifikasikan kopi di tanoh Gayo berdasarkan daerah tumbuhnya, dan mulai mengembangkan varietas sesuai dengan selera konsumen, bukan bersikap autis dengan pikiran hanya untuk menggenjot produksi seperti Vietnam.</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Win Wan Nur</p>
<p>www.winwannur.blog.com<br />
www.winwannur.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sinar-atjeh.com/?feed=rss2&amp;p=93</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Isaq Kampungku Yang Bersuhu Hangat</title>
		<link>http://www.sinar-atjeh.com/?p=89</link>
		<comments>http://www.sinar-atjeh.com/?p=89#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 12:16:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sinar-atjeh.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Keterangan Photo: Win Wan Nur Isaq Kampungku Yang Bersuhu Hangat Kamis 05-03-2010 By Win Wan Nur Isaq, adalah nama ibu kota kecamatan Linge yang masuk ke dalam wilayah administrasi kabupaten Aceh Tengah. Tapi meskipun statusnya adalah ibu kota kecamatan, jangan membayangkan Isaq itu sebagaimana layaknya ibukota kecamatan di pulau jawa yang ramai. Karena meskipun statusnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="width: 195px; height: 300px;" border="0" width="195" align="left">
<tbody>
<tr>
<td scope="row">
<div><img src="http://sinar-atjeh.com/images/winwannur.jpg" alt="" width="185" height="300" /></div>
<div><span class="style26"><span style="color: #0000FF;">Keterangan Photo: Win Wan Nur</span></span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Isaq Kampungku Yang Bersuhu Hangat</strong></p>
<p>Kamis 05-03-2010</p>
<p>By Win Wan Nur</p>
<p>Isaq, adalah nama ibu kota kecamatan Linge yang masuk ke dalam wilayah administrasi kabupaten Aceh Tengah. Tapi meskipun statusnya adalah ibu kota kecamatan, jangan membayangkan Isaq itu sebagaimana layaknya ibukota kecamatan di pulau jawa yang ramai. Karena meskipun statusnya ibu kota kecamatan, tapi Isaq letaknya terpencil di tengah hutan pinus di pedalaman Tanoh Gayo yang ditinggali penduduk yang lebih sedikit dari sebuah RW di Jakarta. <span id="more-89"></span></p>
<p>Dari Isaq inilah keluargaku secara turun-temurun berasal.</p>
<p>Kampungku ini berjarak 30 kilometer dari Takengen, yang merupakan ibu kota kabupaten Aceh Tengah yang sekaligus merupakan kota terbesar dan paling ramai di Tanoh Gayo. </p>
<p>Isaq terletak di sebuah lembah di dataran rendah yang hangat. Suhu yang hangat ini membuat Isaq berbeda dengan Takengen yang dingin. Untuk lansekap dan kondisi alam, secara sekilas saja orang langsung bisa melihat perbedaan antara Isaq dan Takengen. Banyaknya pohon kelapa yang merupakan tanaman khas daerah pesisir yang tumbuh di Isaq, adalah perbedaan yang paling mencolok antara alam Isaq dan alam Takengen. </p>
<p>Suhu yang lebih hangat membuat mata pencaharian orang Isaq juga berbeda dengan penduduk Takengen. Jika di Takengen dan sekitarnya yang bersuhu dingin orang banyak mengusahakan kebun kopi sebagai seumber mata pencaharian, kami di Isaq tidak. Di Isaq kami lebih banyak mengusahakan sawah, membuat gula aren (Di Takengen gula ini dikenal dengan nama Gule Isaq) dan memelihara kerbau.</p>
<p>Untuk menuju ke kampungku ini, dari Kota Takengen, orang harus melintasi gunung berhutan primer bernama Bur Lintang. </p>
<p>Dulu, saat kakekku masih muda, untuk bisa mencapai kampungku ini, orang dari Takengen harus menempuh beberapa hari perjalanan berjalan kaki melewati hutan Bur Lintang dengan resiko diterkam harimau.</p>
<p>Aku bersama kakekku tinggal di Isaq antara tahun 1978-1979, saat itu aku masih kecil dan belum bersekolah. Pada waktu itu, di seluruh kecamatan kami itu, sekolah yang ada hanya sampai tingkat sekolah dasar dan itupun hanya ada satu dalam radius 50 kilometer. SMP baru dibangun setelah aku tidak lagi tinggal di sana. </p>
<p>Untuk melanjutkan sekolah ke SMP dan SMA, saat itu warga kampungku harus berangkat ke Takengen. Tidak banyak orang yang berpendidikan tinggi di kampungku ini. Orang berpendidikan paling tinggi di sana adalah Camat, tapi aku tidak pernah mengenal sosoknya, karena dia bertempat tinggal di tepi hutan yang terpisah sekitar satu kilometer di luar kampung kami dan dari yang sering kudengar sepertinya Pak Camat lebih sering ada di Takengen ketimbang di Isaq. </p>
<p>Rumah camat ini berada satu lokasi dengan kantor camat sendiri, kantor Koramil, Polsek dan juga tempat kediaman para personelnya. </p>
<p>Dibandingkan dengan Camat, aku lebih mengenal sosok Dan Ramil karena dia setiap pagi selalu minum kopi di warung samping rumahku.</p>
<p>Di samping sarana pendidikan yang minim, pada waktu aku tinggal di sana listrik juga belum ada. Tapi meskipun begitu, keadaan Isaq yang seperti ini sudah jauh lebih baik dibanding zaman ketika kakekku masih muda. </p>
<p>Saat aku tinggal di Isaq, sudah ada jalan yang menghubungkan Takengen dengan Kampungku ini, meskipun ketika itu jalanan tersebut masih berupa jalan tanah yang diberi pengerasan yang membuat jarak yang hanya 30 kilometer itu harus ditempuh dalam waktu berjam-jam. Sehingga jika pada masa itu kita berada di Takengen dan menyebut nama ISAQ, maka kesan yang ditangkap oleh orang Takengen, Isaq itu adalah sebuah negeri terpencil yang letaknya jauh sekali. </p>
<p>Waktu itu banyak orang Takengen yang percaya kalau orang-orang di kampungku ini rata-rata memiliki ilmu gaib.</p>
<p>Kepercayaan seperti ini membuat orang Takengen cenderung takut berkunjung bahkan ada yang tidak berani sekedar untuk melintasi Isaq. Mungkin karena berbagai cerita yang tidak jelas ini, ditambah hampir tidak adanya daya tarik ekonomi yang cukup kuat dari kampungku ini. Membuat sedikit sekali bahkan hampir tidak ada orang Takengen yang pernah berkunjung ke kampung kami. Orang Takengen yang datang ke Isaq biasanya hanya mereka yang berasal atau memiliki keluarga di kampung kami atau mereka yang bekerja sebagai guru atau pegawai di kantor kecamatan dan institusi pemerintahan yang lain.</p>
<p>Letak Isaq yang terpencil dan udik di mata orang Takengen, sering membuat orang Isaq dijadikan bahan olok-olok penduduk di ibu kota kabupaten ini. Oleh orang Takengen, nama Isaq dicocok-cocokkan dengan kata pekak (bodoh) dan ungak (tai hidung) dalam sebuah syair yang berima, kata-kata itu digunakan untuk mengolok-olok orang Isaq yang mereka bayangkan sebagai, orang udik yang kampungan dan tidak berpendidikan. </p>
<p>* Olok-olok dengan syair yang berima ini adalah khas Gayo, olok-olok seperti ini juga digunakan untuk mengolok-olok orang suku Aceh. Jika oleh orang Aceh, Gayo sering disebut &#8216;urik&#8217;, oleh orang Gayo, kepada orang suku Aceh yang datang merantau ke Gayo dilekatkan kata tengkang (mengangkang) dan gantang (kentang). Seperti saya yang tidak tahu kenapa kata pekak dan ungak dilekatkan untuk mengolok-olok orang Isaq, saya pun tidak tahu alasan apa yang membuat orang Gayo melekatkan kata &#8216;tengkang&#8217; untuk mengolok-olok orang suku Aceh.</p>
<p>Sekarang Isaq sudah tidak lagi terpencil, jalanan yang menghubungkan antara Takengen dan Isaq kini sudah diaspal hotmix sampai ke Belang Kejeren. Tidak jauh dari Isaq, sekarang sudah ada pemukiman yang lebih ramai bernama Jagong- Jeget, bekas hutan lebat yang dijadikan lokasi transmigrasi, sehingga sekarang tempat itu bahkan jadi jauh lebih ramai ketimbang Isaq.</p>
<p>Sekarang setiap hari ada banyak angkutan umum yang melintasi Isaq, baik yang menuju ke Jagong Jeget atau ke Belang Kejeren. Sekarang, dari Takengen menuju ke Isaq bisa ditempuh dalam waktu satu jam saja.</p>
<p>Situasi ini sangat berbeda dibandingkan dengan saat aku masih tinggal di Isaq dulu. </p>
<p>Pada masa itu, bis yang melintasi rute Takengen-Isaq hanya ada dua. Satu milik perusahaan angkutan CV. Menara bernomor 11 dan yang satu lagi milik perusahaan PT. Aceh Tengah bernomor 10. Kedua bis ini berbentuk mini bus berbody karoseri dengan mesin Colt diesel seperti yang biasa dipakai sebagai truk pengangkut pasir. Karena hanya dua dan penduduk yang dilayani pun tidak banyak, hampir semua penduduk kampungku mengenal sopir Bis ini.</p>
<p>Sopir Bis Aceh Tengah 10 sering berganti-ganti, tapi sopir Bis Menara 11 selalu orang yang sama. Sopir Bis ini bernama Alin, seorang etnis Cina yang fasih berbahasa Gayo. Aku memanggilnya dengan nama Cik Alin (Cik adalah singkatan dari kata Pak Cik yang merupakan panggilan umum di Gayo untuk adik bapak). Begitu akrabnya Cik Alin yang sopir Bis Menara 11 ini dengan warga kampungku, sehingga dia sering diundang makan di rumah-rumah warga kampungku. Kakekku yang merupakan imam di mesjid kampung kami ini juga beberapa kali mengundang Cik Alin makan di rumah kami, sehingga akupun menjadi akrab dengannya. </p>
<p>Aku dan kakekku termasuk warga Isaq yang paling sering menggunakan jasa Cik Alin. Kakekku yang pensiunan pegawai negeri sekaligus anggota veteran, paling tidak sebulan sekali pergi ke Takengen untuk mengambil gaji. Dan setiap kali kakekku pergi ke Takengen, aku selalu diajak serta. </p>
<p>Sampai hari ini aku masih bisa membayangkan dengan jelas bagaimana suasana perjalanan antara Isaq- Takengen dan sebaliknya pada waktu itu, terutama saat kami kembali dari Takengen menuju ke Isaq. </p>
<p>Setiap kali menumpang bis ke Isaq, baik dengan Menara 11 atau Aceh tengah 10, aku dan kakekku selalu diberi kehormatan untuk duduk di depan, di samping sopir.</p>
<p>Untuk berangkat ke Isaq, kami naik di terminal bis Takengen. Dari sana nanti Bis akan berjalan ke arah Toa, dalam perjalanan ini bis selalu berhenti di simpang Wariji dan PNP (gudang dan perumahan karyawan perusahaan PNP yang terletak di seberang lapangan Musara Alun) untuk menaikkan penumpang. Lewat dari PNP salah seorang penumpang akan berteriak, &#8220;hiburan&#8221;. Lalu Cik Alin mengambil kaset, memukul-mukulkannya di telapak tangan dan memasukkannya ke dalam tape recorder bis miliknya dan mengalunlah lagu-lagu populer masa itu yang biasanya adalah lagu dangdut.</p>
<p>Sampai ke Relop jalan masih bagus dan beraspal (meski bukan aspal hotmix), tapi ketika jalanan menanjak memasuki kawasan Bur Lintang, jalanan tidak lagi sebaik sebelumnya, sehingga bis harus berjalan pelan-pelan dan bergoyang ke kanan kekiri. Keadaan seperti ini ditambah dengan bercampurnya berbagai aroma dalam bis ini membuat banyak penumpang merasa mual. Aku termasuk yang paling sering muntah saat melakukan perjalanan ini. </p>
<p>Sepertinya perjalanan antara Takengen- Isaq dalam bis yang bau dan bergoyang-goyang mengocok perut sambil diiringi lagu dangdut yang sering kulakukan di masa kecil bersama kakekku ini begitu membekas bagiku, sehingga sampai hari ini aku langsung merasa mual setiap kali mendengar lagu dangdut. Setiap kali mendengar jenis lagu ini, aku otomatis merasa seperti sedang berada dalam bis yang menuju ke Isaq. (Bahkan saat menuliskan ini pun perutku terasa mual)</p>
<p>Pada waktu tinggal di Isaq dulu, hutan di di Bur Lintang masih sangat lebat. </p>
<p>Hutan di gunung ini adalah hutan primer yang hijau, basah dan dingin. Tidak peduli musim kemarau atau musim penghujan, di sepanjang jalan yang membelah hutan ini aku sering melihat air yang mengalir dari dalam hutan, tumpah ke dalam parit-parit pembatas jalan. Kadang bis berhenti ditempat air-air yang mengalir itu untuk mengisi air radiator. Saat seperti ini sering dimanfaatkan oleh penumpang untuk memetik empan, sejenis tanaman bumbu yang berasa kebas seperti peppermint yang banyak tumbuh liar di tepi jalan di hutan Bur Lintang.</p>
<p>Setelah mencapai titik puncak Bur Lintang, jalanan mulai menurun dan suhu pun semakin lama menjadi semakin hangat, vegetasi alam pun berubah.</p>
<p>Jika sebelumnya hutan yang dilalui adalah hutan primer yang lebat dan basah, setelah beberapa waktu melewati jalanan yang menurun ini bis akan melewati hutan pinus yang suasananya sangat berbeda dengan hutan primer di Bur Lintang. Hutan pinus ini di bawahnya terlihat lapang dan kering serta ditumbuhi rumput-rumputan, tidak seperti hutan primer yang terlihat rapat dan basah dipenuhi berbagai vegetasi khas hutan tropis. Di dalam hutan pinus ini, sesekali aku melihat kerbau berkeliaran bebas sambil merumput atau sedang santai berkubang. Karakter tanah di hutan pinus ini juga tidak sama dengan di Bur Lintang, di hutan pinus ini tanahnya berwarna merah, tidak hitam seperti seperti di Bur Lintang</p>
<p>Di beberapa tempat dalam hutan pinus ini, juga tumbuh tanaman liar yang kami sebut &#8216;terpuk&#8217;. Tanaman ini memiliki batang dan daun yang mirip dengan lengkuas, tapi terpuk tumbuh dengan ukuran yang jauh lebih tinggi. Sepertinya kedua tanaman ini adalah famili yang sama dalam taksonomi. </p>
<p>Di Gayo, kami menggunakan bunga tanaman ini sebagai sayuran dengan rasa yang khas. Biasanya terpuk kami gulai bersama dengan ikan dan empan sebagai penyedap. Gulai ini kami masak sampai kuahnya kering, dalam bahasa Gayo masakan seperti ini kami namakan pengat.</p>
<p>Selain terpuk ada juga tanaman seperti ini bernama &#8216;serule&#8217; yang sekilas bentuknya sama dengan &#8216;Terpuk&#8217; tapi tidak memiliki bunga. Tapi meskipun tidak memiliki bunga seperti terpuk, serule memiliki buah yang didalamnya dipenuhi biji seperti buah jambu biji dengan rasa yang manis. Waktu kecil aku dan teman-temanku lebih menyukai Serule ketimbang terpuk. Tapi bagi orang dewasa, bagian tanaman ini yang berguna hanya bagian daunnya yang dimanfaatkan untuk bahan pembuat atap rumah.</p>
<p>Dalam Hutan pinus ini terdapat banyak pondok pengawas milik PNP. Sebuah perusahaan negara yang mengelola produksi getah pinus alias terpentin. Kadang-kadang kita juga bisa menemui pekerja yang sedang menyadap getah pinus itu. Mereka hampir semuanya adalah pekerja suku Jawa yang konon dulunya dibawa oleh Belanda dari negeri mereka yang jauh di seberang laut.</p>
<p>Di beberapa tempat aku melihat perkampungan yang didiami oleh pekerja-pekerja suku jawa ini. Salah satunya yang paling aku ingat ada di sebuah tempat yang bernama Air Asin, tempat ini aku ingat karena dari sini Isaq sudah tidak terlalu jauh. Tapi ketika beberapa tahun kemudian saat aku sudah duduk di bangku SD, kulihat desa ini sudah ditinggalkan penghuninya, rumah-rumah termasuk mesjid yang ada di desa ini tampak tidak terawat dan kemudian hancur dengan sendirinya.</p>
<p>Tidak lama setelah melewati Air Asin, aku akan segera melihat persawahan dan sungai yang membelah lembah Isaq beserta dengan pohon-pohon kelapa yang merupakan tanaman khas daerah Isaq yang tidak bisa kita temukan di Takengen yang bersuhu dingin.</p>
<p>Setelah itu bis akan melewati lokasi pusat pemerintahan dan tempat kediaman para personelnya dan tidak lama kemudian Bis pun tiba di lembah Isaq yang hangat. Tempat aku menghabiskan masa kecilku sebelum aku mulai bersekolah.</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Win Wan Nur<br />
Suku Gayo asal Isaq</p>
<p>www.winwannur.blog.com<br />
www.winwannur.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sinar-atjeh.com/?feed=rss2&amp;p=89</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takut Menghadapi Konflik, Bertemu Dengan Bencana</title>
		<link>http://www.sinar-atjeh.com/?p=87</link>
		<comments>http://www.sinar-atjeh.com/?p=87#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 16:26:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.sinar-atjeh.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Keterangan Photo: Win Wan Nur Takut Menghadapi Konflik, Bertemu Dengan Bencana Kamis 25-02-2010 By Win Wan Nur Ketika seorang anak mengalami penyakit kudis di kepala, bagaimana cara orang tua menghadapinya?. Pertama, untuk menghindari konflik dengan si anak karena si anak tidak tahan rasa sakit dan menangis meraung-raung kalau kudisnya disentuh, si orang tua memilih mengobati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="width: 195px; height: 300px;" border="0" width="195" align="left">
<tbody>
<tr>
<td scope="row">
<div><img src="http://sinar-atjeh.com/images/winwannur.jpg" alt="" width="185" height="300" /></div>
<div><span class="style26"><span style="color: #0000FF;">Keterangan Photo: Win Wan Nur</span></span></div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Takut Menghadapi Konflik, Bertemu Dengan Bencana</strong></p>
<p>Kamis 25-02-2010</p>
<p>By Win Wan Nur</p>
<p>Ketika seorang anak mengalami penyakit kudis di kepala, bagaimana cara orang tua menghadapinya?. </p>
<p>Pertama, untuk menghindari konflik dengan si anak karena si anak tidak tahan rasa sakit dan menangis meraung-raung kalau kudisnya disentuh, si orang tua memilih mengobati kudis di kepala dengan membiarkan rambut di kepala si anak menghalangi pengobatan, dengan resiko kudis itu tidak akan sembuh sempurna. </p>
<p>Atau cara kedua memilih sedikit berkonflik dengan si anak dengan cara mencukur habis rambut si anak di bagian kepala yang berkudis yang akan membuat penyakit kudis itu bisa diobati sampai sembuh sempurna dengan resiko berkonflik dengan si anak yang meraung-raung kesakitan saat rambut di bagian kepalanya yang berkudis dicukur.<span id="more-87"></span></p>
<p>Banyak orang tua yang karena besarnya rasa sayang, tidak tega melihat raungan anaknya yang kesakitan, menghindari konflik kecil dan memilih memelihara penyakit seperti itu. Mereka memilih memberikan pengobatan yang hanya mengurangi sedikit rasa sakit tapi tidak bisa mengobati kudis ini sampai tuntas. Pilihan seperti ini sekilas terlihat paling bijaksana karena membuat si anak senang, tapi resikonya, kudis yang tidak diobati dengan sempurna itu perlahan-lahan akan meluas dan akhirnya akan meneginfeksi seluruh kulit kepala yang akan membuat si anak akan sangat menderita. Pada akhirnya, kalau mereka tidak mau anaknya menderita seumur hidup, mereka pun terpaksa harus mau berkonflik besar dengan si anak karena harus mencukur seluruh bagian kepala yang semuanya telah ditumbuhi kudis.</p>
<p>Perilaku menghindari konflik kecil seperti yang ditunjukkan oleh orang tua dalam menghadapi masalah seperti yang saya gambarkan dalam ilustrasi di atas adalah perilaku umum yang dapat kita temui dalam setiap masyarakat di belahan dunia manapun, dalam menghadapi masalah apapun.</p>
<p>Di Indonesia, dulu (bahkan sampai sekarang) kita mengenal hantu bernama SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan), yang tabu untuk diomongkan. </p>
<p>Men-tabu-kan pembicaraan atau diskusi yang menyangkut SARA ini, sekilas terlihat di permukaan mampu meredam konflik antar masyarakat yang sedemikian majmuk. </p>
<p>Pada kenyataannya, pelarangan ini sama saja dengan memelihara kudis di kepala. Di permukaan, pelarangan ini memang berhasil menghindarkan masyarakat dari &#8216;konflik-konflik kecil&#8217;. Padahal &#8216;konflik-konflik kecil&#8217; ini sebenarnya berguna untuk mengobati kudis sebelum penyakit itu meluas menginfeksi seluruh bagian kepala. Tapi karena dilarang untuk didiskusikan, maka masalah SARA yang tabu didiskusikan ini seolah terselesaikan padahal inti permasalahannya sama sekali tidak hilang. </p>
<p>Seperti kudis di kepala yang tidak tuntas tersembuhkan, masalah SARA yang tabu dibicarakan itupun terendapkan, terakumulasi sedikit demi sedikit, tanpa disadari semakin lama semakin membesar dan pada saatnya ketika tekanan sudah sedemikian besar, masalah itu pun meledak menjadi konflik besar secara fisik yang berdarah-darah seperti yang kita saksikan terjadi di Ambon dan di Poso.</p>
<p>Dalam skala yang lebih kecil, di Aceh, men-Tabu-kan pembicaraan soal SARA telah membuat akumulasi kekecewaan suku-suku minoritas terhadap suku Aceh yang mayoritas, membesar. Kekecewaan yang membesar inilah yang telah memunculkan ide pembentukan provinsi baru ALA dan ABAS yang terpisah dari provinsi Aceh.</p>
<p>Apa yang terjadi terhadap pemerintahan Orde Baru yang anti kritik juga sama.</p>
<p>Pemerintahan pada masa itu sangat alergi terhadap segala konflik kecil-kecil. Pada masa itu semua kritik yang ditujukan kepada pemerintah ditanggapi secara berlebihan, sehingga ketika semuanya terakumulasi, meledaklah sebuah konflik besar yang menjatuhkan pemerintahan Soeharto.</p>
<p>Pola yang sama juga dapat kita saksikan pada kejatuhan ekonomi Amerika beberapa waktu yang lalu. </p>
<p>Dulu Amerika adalah negara yang sangat produktif sehingga mereka bisa menjadi kekuatan utama ekonomi dunia. Ini bisa terjadi karena dibandingkan eropa dan jepang mereka sedikit sekali mengalami kerusakan pasca Perang Dunia II. Situasi ini membuat mereka bisa leluasa mengembangkan industrinya, sehingga lebih dari separuh barang produksi yang ada di pasar dunia pada masa itu disumbangkan oleh Amerika. </p>
<p>Industri mobil Amerika, Ford, Chrysler dan GM waktu itu nyaris tanpa pesaing, begitu juga dengan industri baja, mesin manufaktur, aluminium, pesawat dan sebagainya. Situasi ini membuat lebih dari separuh transaksi mata uang Global ada dalam mata uang DOLLAR AMERIKA.</p>
<p>Situasi perekonomian yang nyaman ini membuat masyarakat Amerika menjadi masyarakat yang konsumtif, perlahan-lahan mereka menjadi sangat konsumtif dan semakin konsumtif.</p>
<p>Sementara itu negara-negara lain pun mulai menata ekonominya, tanpa disadari oleh orang Amerika sendiri, sedikit demi sedikit kekuatan ekonomi Amerika sudah tidak lagi sedominan pasca perang dunia II dulu. Tanpa disadari oleh banyak orang Amerika, peta ekonomi dunia berubah. Eropa, Jepang, Korea, India, bahkan Cina dan lain-lain telah tumbuh menjadi kekuatan ekonomi baru. Industri Amerika tidak lagi sedigjaya dulu, untuk mobil misalnya, sekarang dunia malah lebih akrab dengan merk Toyoya, Nissan, Honda dan berbagai merk Jepang lainnya bahkan KIA dan Hyundai yang nota bene merk Korea, ketimbang Chevrolet, Ford dan merk-merk Amerika lainnya yang dulu pernah sangat dominan dalam pasar otomotif dunia.</p>
<p>Situasi ini membuat AMERIKA sekarang bukan lagi negara PRODUSEN seperti setalah PD II dulu, tapi sebaliknya sekarang mereka adalah negara KONSUMEN, defisit perdagangan mereka 800 MILYAR DOLLAR PER TAHUN, pertumbuhan rata-rata impor rata-rata tiga kali lipat pertumbuhan rata-rata ekspor.</p>
<p>Ketika dulu presiden Bush naik menggantikan Clinton, Ekonomi AS dibangunnya atas paradigma besar pasak daripada tiang. Perdagangan luar negeri mereka mengalami defisit, tapi APBN mereka terus meningkat bahkan mereka mampu membiayai perang di Iraq yang berlangsung bertahun-tahun. Perang yang sebulannya menghabiskan biaya 10 Milyar Dollar.</p>
<p>Sementara itu masyarakat Amerika sendiri sudah terlanjur nyaman dengan perilaku konsumtifnya. Pada akhirnya dari yang dulunya merupakan masyarakat paling produktif, masyarakat Amerika telah berubah menjadi masyarakat yang paling konsumtif di dunia. Bahkan ekonomi Amerika sangat bertumpu pada konsumsi, tanpa adanya konsumsi yang tinggi, ekonomi Amerika langsung mati. </p>
<p>Tapi karena minimnya produksi, orang Amerika yang konsumtif jadi tidak bisa lagi menabung. Tingkat tabungan masyarakat Amerika sangat rendah. Banyak rumah tangga Amerika memiliki utang rumah tangga yang lebih besar dari penghasilan yang mereka dapatkan per bulan.</p>
<p>Lalu selama ini bagaimana Amerika mampu membiayai ekonominya yang boros itu? jawabnya ya sama seperti yang dilakukan oleh warga negaranya, yaitu BERUTANG. Mereka menerbitkan beragam surat utang, entah itu pemerintah atau juga swasta. Surat-surat utang ini kemudian dibeli oleh investor dari berbagai belahan dunia, jaminannya apa?&#8230;Reputasi Amerika sendiri yang berdasarkan pada kepercayaan bahwa Amerika memiliki fundamen ekonomi yang kuat. Solusi mengatasi masalah ekonomi seperti disebut dengan ekonomi gelembung alias &#8216;Bubble Economy&#8217;. </p>
<p>Pemerintah Amerika tidak mau sedikit berkonflik dengan masyarakatnya (atau lebih tepat disebut ketakutan tidak akan dipilih lagi) dengan cara mendidik mereka untuk kembali produktif dan mengurangi perilaku konsumtif. </p>
<p>Sikap pemerintah Amerika ini persis sama seperti sikap orang tua yang tidak tahan mendengar raungan anaknya ketika rambut dibagian kulit kepalanya yang berkudis dicukur untuk bisa diobati secara tuntas. </p>
<p>Seperti ditulis Budiarto Shambazy di kolom politika Kompas 7-oktober 2008 silam, pada tanggal 22 Maret 2007, melihat ketidakberesan sektor keuangan di Amerika, Obama dalam kapasitasnya sebagai senator pernah menyurati Gubernur The Fed, Ben Bernanke dan Menkeu Henry Paulson, dalam suratnya Obama meminta mereka berdua untuk mengadakan KTT kepemilikan rumah dengan Bank, Investor, Lembaga pemberi kredit dan lembaga perlindungan konsumen. Tapi dua pejabat penting itu tidak mengindahkan surat Obama. </p>
<p>Hasil perilaku seperti ini apa?&#8230;BENCANA keruntuhan ekonomi Amerika yang memicu krisis global sebagaimana kita saksikan beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Seperti dalam politik dan ekonomi, dalam kehidupan beragama pun efek yang ditimbulkan oleh perilaku menghindar dari &#8216;konflik&#8217; kecil seperti ini juga sama. </p>
<p>Dalam kehidupan beragama, kadang-kadang kita dihadapkan pada sekelompok orang yang memaksakan kehendak dan memaksakan penafsirannya sendiri terhadap teks-teks agama dan menuduh orang yang berbeda pandangan dengan cap buruk yang macam-macam. </p>
<p>Di Aceh contohnya, orang-orang semacam ini sudah mulai berani menunjukkan diri terang-terangan. Di negeri saya ini, mereka misalnya memonopoli ruang opini di media massa dan dengan angkuhnya mengancam setiap orang yang berani menuliskan opini berbeda. </p>
<p>Akibat adanya ancaman semacam ini, ketika terjadi pemerkosaan yang dilakukan oleh WH beberapa waktu yang lalu, banyak intelektual Aceh yang tidak berani beropini di media lokal untuk menghantam inti permasalahan yang membuat tragedi ini terjadi.</p>
<p>Pasca terjadinya Tragedi Langsa tersebut, saya membaca sebuah tulisan di sebuah media cetak nasional yang sangat objektif memandang masalah itu. Penulisnya adalah seorang perempuan berjilbab yang jelas beragama Islam. </p>
<p>Membaca tulisannya, saya bertanya kepada penulis artikel ini, &#8220;kenapa tidak mengirimkan tulisan yang sama ke media lokal?&#8221;,</p>
<p>&#8220;nggak bisa bang, kalau yang seperti ini kita tulis di media lokal, besoknya akan datang berhamburan berbagai opini yang menyebut kita kafir, murtad, anti islam sampai menghalalkan darah kita&#8221; jawabnya dengan nada miris. Begitulah situasi di Aceh sekarang.</p>
<p>Di aceh, sebenarnya perilaku sekelompok orang ini jelas sudah sangat mengganggu. Tapi para intelektual Aceh seolah kehilangan akal dalam menghadapi perilaku mereka yang mau menang sendiri itu.</p>
<p>Padahal situasi seperti ini sebetulnya tidak terlalu sulit untuk dihadapi. </p>
<p>Untuk menghadapi perilaku sekelompok orang yang suka memaksakan kehendak dan pemikiran ini, caranya cukup dengan membuka &#8216;konflik&#8217; kecil dengan menantang mereka beradu gagasan terhadap masalah yang tidak mereka sepakati. Biarkan mereka menyumpah-nyumpah dan memaki-maki dan biarkan masyarakat luas yang menilai argumen-argumen dalam debat ini.</p>
<p>Tapi sayangnya banyak kalangan dalam masyarakat Aceh, dengan alasan menjaga ukhuwah islamiyah dan tidak ingin ada pertentangan di antara saudara seiman, tidak menginginkan adanya adu opini semacam ini, mereka lebih memilih bersikap sabar, mendiamkan, mentolerir dan membiarkan perilaku fasis yang dipraktekkan sekelompok orang ini. </p>
<p>Dengan bersikap fasif untuk menghindar dari konflik seperti itu, kalangan ini merasa telah bersikap netral dan merasa telah berbuat adil sesama saudara seiman. </p>
<p>Mereka seolah menutup mata dan seperti tidak menyadari kalau perilaku orang-orang yang suka memaksakan kehendak dan pemikiran yang mereka biarkan ini, padahal sebenarnya perilaku yang ditunjukkan oleh orang-orang yang suka memaksakan kehendak dan pemikiran ini sudah pada taraf yang sangat berbahaya karena sudah sampai pada tahap ancam-mengancam (secara fisik), mengkafirkan dan memurtadkan umat Islam lain. </p>
<p>Dengan memilih sikap &#8216;netral&#8217; seperti ini, tanpa mereka sadari, kalangan yang tidak mau repot dan suka memilih &#8216;jalan aman&#8217; ini sebenarnya sedang bersikap persis seperti orang tua yang tidak tahan mendengar raungan anaknya sebagaimana saya ceritakan dalam ilustrasi di atas. Dengan memilih sikap &#8216;netral&#8217; seperti ini, mereka sebenarnya sedang bersikap seperti Soeharto dan pemerintah Amerika yang mendewakan stabilitas dan sangat anti terhadap setiap &#8216;konflik&#8217; kecil yang sebenarnya perlu ada untuk menghindari terjadinya konflik besar yang berpotensi menyebabkan kerusakan besar pula. </p>
<p>Kalau melihat doktrin agamanya, sebenarnya terjadinya pembiaran Sikap yang ditunjukkan sebagian kalangan dalam masyarakat Islam ini terasa janggal dan sangatlah aneh. Hal ini terasa aneh karena dalam agama Islam, umatnya tidak pernah diajarkan untuk &#8220;Memberikan Pipi Kiri saat Pipi Kanan ditampar&#8221;</p>
<p>Sebelum bibit-bibit konflik ini terakumulasi menjadi BENCANA konflik besar secara fisik yang berdarah-darah, pembiaran semacam ini harus cepat diakhiri.</p>
<p>Dalam situasi sekarang, sangatlah bijaksana kalau kita membiarkan bahkan kalau perlu memulai &#8216;konflik-konflik&#8217; kecil dengan orang-orang yang suka memaksakan kehendak dan pemikiran ini dalam bentuk DISKURSUS alias DEBAT INTELEKTUAL. Kalau orang-orang yang suka memaksakan kehendak dan pemikiran ini terus menghindar (dari DISKURSUS alias DEBAT INTELEKTUAL), kita pun tidak perlu ragu untuk mengikuti &#8216;aturan permainan&#8217; yang mereka buat, kalau cara seperti itu memang diperlukan.</p>
<p>Ini perlu kita lakukan supaya kudis yang masih sedikit ini tidak menjalar menginfeksi seluruh kulit kepala. Kita harus tega mencukur rambut dibagian kepala yang berkudis itu, biarkan si anak meraung-raung sebentar, tapi setelah itu kudis di kepalanya bisa diobati sampai sembuh total.</p>
<p>Wassalam</p>
<p>Win Wan Nur<br />
Orang Aceh suku GAYO beragama ISLAM</p>
<p>www.winwannur.blog.com<br />
www.winwannur.blogspot.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.sinar-atjeh.com/?feed=rss2&amp;p=87</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
